Jalan Pintas Memenangkan Persaingan, Politik dan Ras

TOTAL : 489 ( TODAY : 1)

Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai ini, sebaiknya kita sepakati dulu apa yang disebut dengan Politik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksudkan dengan politik adalah :

politik/po·li·tik/ n 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan): bersekolah di akademi –; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain: — dalam dan luar negeri; kedua negara itu bekerja sama dalam bidang — , ekonomi, dan kebudayaan; partai –; organisasi –; 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan: — dagang; — bahasa nasional;

Dari pengertian diatas, bisa disimpulkan bahwa politik bisa berlaku di semua bidang, mulai dari pemerintahan, perdagangan, budaya, sosial dan lain sebagainya. Dalam pemahaman saya, politik itu lebih ditekankan kepada “cara bertindak” dalam menghadapi atau menangani suatu masalah.

Sedangkan yang dimasud dengan ras dalam KBBI adalah:

ras n golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik; rumpun bangsa: warga negara Amerika terdiri atas pelbagai –

 Ras yang dimaksud disini mengacu kepada individu atau kelompok orang dengan ciri – ciri fisik serupa bukan kepada wilayah atau daerah.

Jadi kalau saya satukan kedua kata tersebut menjadi cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah didasarkan pada golongan bangsa berdasarkan ciri – ciri fisik.

Dalam pengertian yang positif hal ini adalah yang sehari – hari berlaku di sekitar kita. Misalnya, masalah yang dihadapi orang Bali dan orang Ambon, Sumatra atau Kalimantan tentu berbeda dan cara – cara penanganan masalah yang berlaku di tiap – tiap kelompok juga berbeda. Cara penanganan masalah orang Ambon tentu akan sangat berbeda dengan orang Bali, dan tidak bisa juga cara – cara orang Bali untuk digunakan menyelesaikan masalah orang Ambon. Untuk kita pahami bersama, ini berlaku untuk individu atau komunitas dari ras masing – masing, bukan kepada daerah atau wilayah.

Dalam proses perkembangannya, isu – isu rasial menjadi sebuah cara pintas yang dilakukan oleh politisi untuk bisa memenangkan persaingan. Tidak hanya oleh para politisi, dalam dunia usaha juga berlaku politik ras sepert ini. Proses – proses menjatuhkan lawan dengan menggunakan politik ras sudah dilakukan sejak tahun 1940an oleh Belanda sebagai bagian dari Devide et Impera atau Politik pecah belah yang mereka jalankan untuk melemahkan kekuatan bangsa Indonesia. Dan cara – cara ini masih dilanggengkan hingga kini di berbagai aspek kehidupan sosial dan politik di masyarakat kita. Menurut saya mereka yang menggunakan isu – isu rasial adalah orang yang minim kemampuan hingga harus mundur lagi ke tahun sebelum 1928 atau tahun sebelum sumpah pemuda dikumandangkan.

Definisi ras yang semula hanya berupa kelompok orang, berkembang menjadi wilayah atau daerah, misalnya ras Bali adalah yang tinggal di wilayah Bali, atau ras Sumatra adalah yang tinggal di Sumatra, dan lain sebagainya. Pemahaman ini menurut saya sangat keliru dan berbahaya untuk kondisi masyarakat kita saat ini. Di Bali bukan hanya di tempati oleh ras Bali saja, melainkan ada ras Jawa, Madura, dan lain lain. Kalau ras di definisikan sebagai wilayah maka akan terjadi pertentangan cara dan penerapan di daerah tersebut. Misalnya saja, kalau orang Bali membangun rumah tentu dengan upacara dan sebagainya, tapi apa mungkin orang Jawa dengan keyakinan berbeda harus menerapkan cara – cara tersebut? Jawabannya tentu tidak. Itulah kenapa di setiap daerah ada aturan adat yang mengatur tatanan tersebut disamping ada hukum negara yang berlaku.

Ungkapan dimana langit di junjung, disana bumi dipijak, implementasinya bukan kepada personal ras masing – masing, tapi kepada aturan adat dan hukum yang berlaku. Sungguh keliru kalau ungkapan ini di dengung – dengungkan untuk masalah rasial dari individu atau kelompok orang tersebut. Politisi sering tidak memikirkan dampak isu – isu rasial terhadap masyarakat, yang mereka perjuangkan adalah kemenangan mereka dalam berkompetisi politik itu saja. Isu – isu rasial adalah isu yang sangat berbahaya jika dibiarkan berkembang dalam masyarakat kita.

Dewasa ini definisi ras sering dihubungkan dengan prilaku dan kepribadian masing – masing individu. Menurut saya ini adalah implikasi negatif dari dengung politik rasial yang sering dikumandangkan. Prilaku sama sekali tidak ada hubungannya dengan ras. Kalaupun dipaksakan ini hanya menjadi jaka sembung yang bawa golok. Alias nggak nyambung. Sama hal nya dengan laki – laki gondrong adalah rocker, belum tentu, bisa saja laki – laki gondrong adalah pecinta jazz, karena gondrong bukan menentukan selera musik. Atau ungkapan orang bertato adalah preman, ini isu klasik yang mungkin sudah tidak perlu dijelaskan lagi.

Kita adalah manusia yang terlahir dengan ras kita masing – masing. kita tidak bisa memilih di ras mana kita dilahirkan. Yang bisa kita pilih adalah menjaga tradisi dan budaya kita dan menjaga kerukunan hidup kita sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara Indonesia. Politisi tetap akan hanya menjadi politisi yang didalamnya penuh intrik dan kelicikan untuk memenangkan persaingan. Kita bisa memilih untuk mendengarkan mereka atau tidak sama sekali, itu terserah kepada pilihan masing – masing. Isu – isu rasial dan pertentangan ras hanyalah isu lama yang sudah tidak relevan kita terapkan pada jaman sekarang ini, marilah kira berkompetisi dengan lebih sehat, kompetisi yang lebih menonjolkan kualitas kita masing – masing tanpa ada isu – isu rasial yang hanya akan membawa kita pada perpecahan. Leluhur kita telah bersumpah, bangsa yang satu Bangsa Indonesia.

Ahhhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :