I Nyoman Sura, Dedikasi dalam Tari Kontemporer

TOTAL : 984 ( TODAY : 1)

I Nyoman Sura Semasa kecil terbiasa membantu orangtuanya bertani di sawah. Kalau ada waktu luang atau sepulang sekolah, dia sering menonton latihan tari di balai banjar. Dia kemudian mendapat kesempatan untuk latihan di sana. Lambat laun kemampuan gerak tari Sura semakin terasah sampai dewasa. Dia mencoba memperdalam tarian tradisional Bali. Akhirnya dia justru lebih memilih menjadi penari tari kontemporer. Alasannya sederhana: dia merasa fisik tubuhnya kurang mendukung menjadi penari tarian Bali tradisional. Namun dia tak memungkiri, unsur-unsur tradisional Bali senantiasa muncul juga pada tarian kontemporer ciptaannya.

Di bangku sekolah menengah, laki-laki kelahiran 10 April 1976 ini, justru memilih sekolah khusus ilmu ekonomi atau SMEA. Mantap dengan keinginannya, ia kemudian bermaksud melanjutkan ke bidang akuntansi. Tapi ia tidak lolos ke perguruan tinggi. Berkat saran dari seorang kawan, akhirnya ia mencoba masuk ke STSI dan ternyata diterima. Karena ia telah memiliki ketrampilan menari sejak kecil, ia tidak sungkan lagi memilih jurusan tari.

Wayan Dibia dan Swasti Bandem, dua nama yang diakui sangat berperan dalam kariernya. “Dari Bapak Wayan Dibia saya bisa belajar tentang kebebasan dalam mengolah gerak di tari kontemporer dan dari Ibu Swasti Bandem saya belajar bagaimana telaten dalam memilih penari”, ungkapnya memberi alasan.

Karya pertamanya ‘Manusia dan Koper’ hingga kini tetap menjadi kenangan pahitnya. Menurutnya, karya itu mengangkat kisah nyata yang teramat pahit bagi dirinya. Ya, kala itu ia dijanjikan akan dibawa ke luar negeri untuk menari, tapi janji itu tidak pernah ditepati. Dengan kesedihan dan kekesalannya, ia kemudian melancarkan protes terhadap pimpinan yang ingkar janji tersebut dengan sebuah karya yang diberinya judul ‘Manusia dan Koper’. Tari ini sekaligus membawanya mendapatkan gelar sarjana.

I Nyoman Sura sudah menciptakan puluhan karya koreografi, sebagian dipentaskan di luar negeri. Beberapa karya tari yang menurutnya membanggakan adalah Tari Ritus Legong [dipentaskan di Singapore Art Festival 2002], Tari Bulan Mati [Indonesia Dance Festival, Jakarta. 2004], dan Tari Waktu Itu [Pekan Seni Kontemporer di Pekanbaru, 2005]. Tapi yang menjadi pemompa semangatnya dalam menciptakan puluhan tarian adalah sebagai Koreografer Terbaik Lomba Cipta Gerak, Karisma se-Jawa-Bali dengan karya Warna Nusantari [1995].

Satu karyanya yang menuai kontroversi yaitu ‘Waktu Itu’. ‘Waktu Itu’ berbicara tentang liku-liku kehidupan hingga akhirnya berada di puncak waktu hidup yang tidak lain kematian. Ia membawakan ‘Waktu Itu’ dengan selembar kain penutup kemaluannya, sebuah kipas dan selembar kain mori yang dibentangkan. Awalnya biasa saja, hanya olah gerak yang memanfaatkan tipas dengan memadukan gerak tari Bali. Hanya saja pada klimaksnya, ia melepas satu-satunya penutup tubuh dan menggulungkan diri pada kain putih yang telah disiapkan. Penampilannya di Medan Annual Choreographer Showcase di Taman Budaya Sumatra Utara 2004 itu akhirnya menuai kritik dari salah satu partai yang berlatar belakang agama.

Dalam berkarya, ia terinspirasi dari banyak hal seperti lukisan, film, sastra, fashion, kehidupan dan musik. Untuk itu ia juga tidak menolak apabila suatu ketika digandeng oleh orang-orang di luar disiplin bidangnya seperti Mardiana Ika, seorang designer yang memintanya tampil dalam Hongkong Fashion Week bersama guitaris Tropical Transit, Ketut Riwinaya. Sebagai seniman, ia  tidak hanya pandai mengolah gerak, tapi juga pandai menjual. Sejumlah penari pernah berkolaborasi dengannya. Antara lain Marcia Hydee, penari balet asal Jerman dalam Rama-Sinta (2000), Gary Molking dari California dalam Guest Global Healing Conference, Japanese Dancer dalam International Umbul-umbul Festival, berpartisipasi di Singapore Art Festival bersama Arti Foundation mempersembahkan Ritus Legong yang dikoreografi sendiri olehnya (2001), tampil pada acara Indonesian Dance Festival (2004).

I Nyoman Sura sering tampil pada acara-acara internasional, seperti  di Washington, New York dan California, Amerika Serikat untuk adaptasi film Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Berkolaborasi dengan Robert Brown, maestro biola dari Jerman, tampil di Adelaide, Australia. Tahun 2011, tampil di Solo International Performing Art (SIPA) dan Jogja International Performing Art (JIPA). Pada pertengahan Mei 2013 lalu, ia sempat menghadiri festival kesenian di Belanda.

Hingga kini, ia telah menelorkan lebih dari sepuluh karya. Beberapa karya itu ‘Manusia dan Koper’, ‘Bulan Mati’, ‘Waktu Itu’, ‘Sembah Sang Dewi’, ‘Swandewi’, ‘Lakuku’, ‘Lenda-Lendi’, ‘Kuak’, ‘Cak Sunda Upasuda’ (bersama Wayan Dibia), ‘Ritus Legong’, ‘Tajen’, ‘Dua-1’, ‘Daku’, dll. Kini mimpinya terwujud sudah. Meski gagal dibawa ke luar negeri oleh pemimpinnya, ia tetap bangkit dan bertekad mewujudkan impiannya yang pernah kandas. Kini ia tidak hanya tampil di dunia tari dalam negeri, ia bahkan telah menari di Jepang, Swiss, Singapura dan beberapa negara Asia lainnya dan bertahan dengan ciri khas roh Bali dalam tariannya.

I Nyoman Sura wafat di Denpasar Pada hari Jumat, 9 Agustus 2013 siang, karena tumor pankreas dan komplikasi infeksi paru-paru yang dideritanya. Karena tari, Sura bisa melanglang dunia dan Karena tari Sura menginspirasi banyak seniman untuk terus berkarya.

Mari Berbagi :