Humor Tak Berkelas Tampil dalam Sidang MPR/DPR 2016

643 total, 1 today

Dalam pandangan saya, di Indonesia sedang terjadi degradasi nilai humor. Saat para pejuang komedi tengah berusaha sekuat tenaga menampilkan komedi yang memiliki kecerdasan dalam kemasan standup, malah muncul politisi yang membawakan lawakan ke gedung MPR/DPR dalam sidang paripurna kemarin.

Bahasa satir atau sindiran, secara umum banyak sekali digunakan sebagai bahan lawakan yang sangat populer dan menggelitik dalam dunia komedi Indonesia. Bahasa yang sangat cerdas untuk mengemas kritik dalam komedi. Ini sudah lumrah dikalangan komedian kita kita yang saya sebut dengan komedian cerdas.

Tapi begini, dalam setiap pementasan komedi, dimanapun dan oleh siapapun, dalam promosinya selalu menyertai kata “komedi” sebagai judul, sehingga orang yang akan menyaksikan tahu kalau itu adalah pertunjukan komedi, dan tidak sedang berada dalam pertunjukan lain. Para penononton yang menyaksikan mengerti kalau sedang diajak tertawa, dan kalangan yang merasa menyukai lawakan juga tau kalau dia sedang diajak untuk berkelakar dalam canda. Meskipun bahan dari lawakan tersebut adalah sindiran keras terhadap sosial, politik, atau apapun, tetap kita dipaksa untuk bisa tertawa karena telah diperingatkan sejak awal bahwa pertunjukan tersebut adalah pertunjukan komedi.

Hal ini menjadi sangat berbeda kalau dikemas dalam judul yang lain. Semisal saja kalau yang menjadi judul adalah sesuatu yang sangat serius yang menyangkut kepentingan Negara yang menggunakan kata Sidang Paripurna MPR/DPR 2016. Sidang tersebut adalah tempat berkumpulnya semua wakil rakyat, dan memang sangat serius karena dalam sidang tersebut sedang membahas masalah negara. Yang hadir dalam sidang tersebut pun tidak main – main, orang penting semua.

Ada hal yang menggelitik disini, ketika penyampaian doa penutup pada sidang paripurna MPR/DPR 2016 yang disampaikan oleh anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, HR Muhammad Syafi’i. Doa yang disampaikan menyertakan bahasa satir atau sindiran, yang dalam pemahaman saya hal tersebut tidak pernah dilakukan di Indonesia. Kreatifitas yang sangat salah tempat, karena semakin lama saya dengarkan, semakin seperti pertunjukan standup komedi. Saya sempat berfikir, mungkin peserta sidang sudah sangat tertekan sehingga untuk menutup sidang perlu mendatangkan seorang standup komedian.

Saya mencoba berlogika dan menganalisa keadaan tersebut, sidang yang sangat serius di akhiri dengan lawakan kemudian disambut dengan tepuk tangan dan gelak tawa dari peserta sidang. Pertunjukan apakah yang diiringi oleh tepuk tangan dan gelak tawa penontonnya? Tepat sekali kalau anda menjawab pertunjukan komedi. Kalau itu adalah pertunjukan komedi, berarti Syafi’i yang adalah politikus partai Gerindra adalah seorang komedian, dan doa yang dia sampaikan adalah materi komedi.

Mungkin sebaiknya lain kali, kita sebagai masyarakat diberi tahu kalau akan ada pertunjukan komedi ketika sidang MPR/DPR berlangsung, sehingga kita sebagai masyarakat tidak bingung antara mau tertawa atau serius, karena selama ini, yang menyaksikan sidang adalah orang – orang yang serius, yang sangat ingin tahu perkembangan Indonesia. Kalau disertakan kata “komedi” pada judul sidang tersebut, saat ada yang lucu, kita bisa plong untuk ikut tertawa. Kita juga bisa memilih segmen yang mana yang mau kita tonton, kalau penyuka komedi ya hanya akan menyaksikan bagian komedinya saja, kalau yang serius akan menyaksikan segmen yang lain.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

2 × five =