Habis Bambang Tri Munculah Tamim Pardede, Satu Generasi Sepemikiran Jonru

890 total, 1 today

Media sosial memang menarik, bahkan sangat menariknya, justru mengalahkan ketertarikan orang pada televisi dan media lainnya. Kontroversi banyak dilahirkan melalui penyebaran viral, bahkan ada banyak artis atau seleb yang lahir dari efek viral di media sosial. Baik dan buruk bukan merupakan sebuah permasalahan, yang penting bisa viral itu saja.

Tidak mengherankan kenapa belakangan sepertinya setiap orang berusaha mengejar kontroversi demi sebuah nama yang terkenal. Anehnya, yang justru viral di media sosial adalah hal – hal yang salah logika atau logically falacy.

Bambang Tri yang menulis buku Jokowi Undercover sudah dipolisikan karena bukunya berisikan fitnah yang dia anggap sebagai sebuah kebenaran. Ada banyak status sensasional yang dituliskan oleh Bambang Tri pada dinding halaman Facebooknya, bahkan status yang tergolong berani karena banyak membuat kalimat kontroversial yang jauh dari fakta.

Setelah Bambang Tri, sekarang munculah Tamim Pardede. Menurut penelusuran saya, Tamim Pardede adalah seorang Professor Biokimia Molekuler. Tapi dari video yang beredar, kata – kata yang diucapkannya tidaklah mencerminkan seorang professor.

Salah satu video yang berhasil saya dapatkan ada di tautan berikut: https://youtu.be/b8qHwTW30t0

Isu – isu yang dibahas oleh Tamim Pardede tidak jauh dari isu hoax yang memang banyak beredar di media sosial. Kalimat seperti “Jokowi mesra dengan blok komunis”, “banjirnya imigran Cina”, “tiang pancang reklamasi yang isinya narkoba datangnya dari Cina”, “Jokowi mesra dengan kelompok Syiah Iran”, “ancaman perdana menteri Cina yang akan mengerahkan pasukannya bila terulang kembali kejadian 98”, “lambang palu arit di uang indonesia” dan isu – isu lainnya yang sejenis. Semua adalah isu yang memang sedang beredar di media sosial. Ada banyak juga yang sudah membuat klarifikasi mengenai isu – isu tersebut, bahkan di Forum Anti Fitnah dan Hoax juga sudah dibahas.

Pertanyaan saya, kok seorang professor masih percaya dengan isu – isu tersebut? Padahal kalau kita lihat, ada banyak sekali klarifikasi yang meluruskan isu – isu yang dihembuskan oleh oknum sapi – sapian tersebut. Jawaban yang paling masuk akal yang bisa saya simpulkan adalah, seberapa banyak-pun klarifikasi tentang sebuah isu, sebagian orang hanya akan mempercayai apa yang dia mau percayai bukan apa yang seharusnya dia percayai. Ini terjadi pada banyak orang, atau kalau saya tarik benang merahnya, saya sebut dengan generasi sepemikiran Jonru.

Saya sangat mendukung pihak kepolisian yang melakukan tindakan tegas terhadap Tamim Pardede, karena memang informasi yang berbau kebohongan yang dia sampaikan dalam video – video yang sedang viral di media sosial. Ada yang berusaha membenarkan posisi Tamim Pardede sebagai seorang whistle blower, tapi perlu dipahami bahwa arti dari  whistle blower adalah pengungkap fakta yang tidak harusnya diungkap, bukan penyebar kebohongan. Fakta tentu harus berdasarkan data yang kredibel, bukan data hoax.

Bisa kita bayangkan, seseorang yang berpendidikan sekelas professor saja bisa tersangkut kepada informasi yang salah logika, apalagi masyarakat awam yang tidak tahu menahu tentang kaidah kebenaran sebuah informasi. Anehnya, justru hal – hal seperti inilah yang banyak dibicarakan atau menjadi viral di media sosial dan menghasilkan artis pendatang baru media sosial.

Saya agak sedikit khawatir kalau menghubungkan fenomena ini dengan Big Lie Theory nya Joseph Goebbels. Kekhawatiran saya adalah, ada pihak – pihak yang memang  sengaja menggerahkan orang atau sebagian orang justru untuk menyebarluaskan informasi yang salah dengan motif tertentu untuk tujuan tertentu dan dilakukan dengan tersruktur, sistematis dan masif. Semoga kekhawatiran saya tidak seperti apa yang saya bayangkan.

Sebuah informasi yang salah logika sering disajikan dengan masuk akal atau kalau dilihat sekilas memang masuk akal. Diperlukan cek, ricek dan crosscheck akan kebenaran informasi baru bisa terlihat kesalahan logikanya. Berbeda dengan hoax, kesalahan logika lebih cenderung kepada pemelintiran sebuah informasi. Kesalahan logika adalah salah satu yang menghasilkan distorsi informasi. Distorsi informasi memang menjadi biang dari banyak masalah di negeri ini yang bersumber dari internet. Mulai dari media sosial, media abal – abal, dan media – media lain yang tidak mengindahkan kaidah kebenaran sebuah informasi.

Ada banyak informasi yang beredar di Internet, dan kewajiban kita semua untuk menjadi lebih cerdas memahami sebuah informasi dan mencoba melakukan cek atas kebenaran sebuah informasi agar pemikiran kita menjadi berimbang dan lebih sehat untuk kita teruskan pada generasi kita berikutnya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

15 + two =