Gedong Bagoes Oka, Refleksi Gandhi dari Bali.

TOTAL : 636 ( TODAY : 1)

“Hindu, menurut Ibu Gedong, adalah agama yang akan selalu abadi dan universal (sananta dharma), terutama karena berdasarkan pada kitab Weda dan Vedanta, namun bisa juga dicari sumbernya dari kitab Injil atau Al-Qur’an.”

Akulturasi agama menyatu dalam satu sosok, Ibu Gedong Bagoes Oka. Tokoh pejuang kemanusiaan dan perdamaian dengan gerakan nonkekerasan ini dilahirkan tanggal 3 Oktober 1921 dengan nama Ni Wayan Gedong di Karangasem sebagai putri pasangan I Komang Layang dan Ni Komang Pupuh. Berbeda dengan keadaan perempuan di Bali saat itu, Gedong diberi kebebasan oleh keluarganya untuk tinggal jauh dan mendapatkan pendidikan yang layak.  Dari kebebasan yang diberikan keluarganya inilah Ibu Gedong sejak muda sudah dikenal dengan pemikiran keagamaannya yang reformatif. Ia adalah satu dari empat perempuan Bali pertama yang bersekolah di Hollandsch Inlandsch School (sekolah kolonial Belanda untuk pribumi) di Yogyakarta. Selama delapan tahun masa belajarnya, Ibu Gedong tinggal bersama keluarga Prof. Johanes Herman Bavinck, seorang profesor theology di Sekolah Tinggi Teologi Kristen di Yogyakarta.

Pada Tahun 1941, Ibu Gedong kembali ke Bali untuk mengajar di sebuah sekolah lanjutan atas di Singaraja dan kemudian menjadi kepala sekolah. Semasa perjuangan kemerdekaan, Ibu Gedong memainkan peran spiritual yang cukup penting. Bersama suaminya, I Gusti Bagoes Oka, yang sangat mendukungnya, dia memantapkan garis perjuangannya dalam Hindu melalui ajaran Mahatma Gandhi yaitu ajaran yang berdasar pada Ahimsa, antikekerasan, melanggengkan cinta kasih, kebenaran serta kesederhanaan.

Ibu Gedong termasuk sedikit dari perempuan Bali yang terdidik. Seperti banyak pemikir reformasi Hindu, baik di zaman kolonial maupun post-kolonial, Ibu Gedong berkesimpulan bahwa agama Hindu di Bali sangat terpengaruh oleh budaya Bali yang penuh dengan kompleksitas sistem ritual dan ketatnya sistem kasta. Di Bali, Ibu Gedong dengan tak kenal lelah meyakinkan masyarakat untuk mengamalkan Hindu yang tak terlalu terbelit ritual namun lebih religius dan spiritual. Namun, Ibu Gedong tidak pernah mengecam tradisi Hindu Bali seperti banyak pemikir muda Hindu lainnya.

Setelah lulus Sarjana Muda di Universitas Udayana, Denpasar, Bali pada 1964, Ibu Gedong mengajar bahasa Inggris di Fakultas Sastra pada 1965 sampai 1972. Selama periode itu, Ibu Gedong mulai memfokuskan diri pada kegiatan spiritual, dan akhirnya mendirikan Yayasan Bali Santi Sena (The Balinese Peace Front) pada 1970.

Inteligensi, karakter dan keteguhan watak membawanya kepada pergaulan politik di tingkat nasional. Ibu Gedong bersahabat dengan Bung Karno dan sering berdebat tentang masalah kebudayaan, politik, dan emansipasi perempuan. Namun, kritik-kritiknya terhadap Soekarno sangat tajam. Inilah yang membawa Ibu Gedong terjun di dunia politik dan menjadi anggota DPR pada tahun 1967-1972. Ibu Gedong juga bersahabat dengan banyak tokoh lainnya seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan tokoh – tokoh lintas agama lainnya. Setelah jaman reformasi, Ibu Gedong kembali memasuki dunia politik dengan menjadi wakil utusan golongan di MPR. Ibu Gedong adalah orang yang bersikap konsisten berpihak kepada orang-orang yang tertindas, baik itu tertindas dari sisi sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Pada tahun 1974, Ibu Gedong menerjemahkan biografi Mahatma Gandhi ke Bahasa Indonesia, yang kemudian diterbitkan pada 1975. Setahun kemudian, dia mendirikan Ashram Gandhi Santi Dasa di Desa Candidasa, di pantai timur Bali, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelola ashram itu.

Ashram itu menyediakan pendidikan untuk anak yatim dan anak dari keluarga tak mampu. Dengan semangat svadeshi, Ibu Gedong mengadakan berbagai proyek kerja untuk masyarakat setempat, yang dimaksudkan untuk membangkitkan potensi pertanian lokal. Ashram itu juga tidak hanya mendidik pribumi Bali, tapi terbuka untuk orang asing dari segala umur dan dari segala latar belakang agama yang ingin memperdalam keyakinannya dalam suasana meditatif.

Seumur hidupnya, Ibu Gedong mengajarkan Hindu yang reformatif, demokratis, dan toleran. Hindu, menurut Ibu Gedong, adalah agama yang akan selalu abadi dan universal (sananta dharma), terutama karena berdasarkan pada kitab Weda dan Vedanta, namun bisa juga dicari sumbernya dari kitab Injil atau Al-Qur’an.

Selain mengelola Ashram Gandhi Santi Dasa, sampai menjelang tutup usia, Ibu Gedong juga tetap sesekali mengajar Bahasa Inggris di Universitas Udayana. Ia juga memberi kuliah soal spiritual Hindu dalam berbagai forum di banyak daerah di Indonesia dan luar negeri. Pemikirannya beberapa kali membuat Ibu Gedong diundang ke India, secara regular atas undangan Gandhi Peace Foundation.

Pada 1994, dia menerima penghargaan ‘International Bajaj Award’ dari the Bajaj Foundation di Bombay atas usahanya yang tak kenal lelah menyebarkan ajaran Mahatma Gandhi. Pada 1996, Ibu Gedong mendirikan Ashram Bali Gandhi Vidyapith di Denpasar, sebuah ashram yang khusus mendidik mahasiswa di universitas lokal tentang pemikiran Gandhi. Belakangan, Ibu Gedong juga mendirikan ashram serupa di Yogyakarta, di mana ia memiliki pengikut tidak hanya di antara komunitas Hindu tapi juga dari pemeluk Muslim dan Kristen.

Ibu Gedong dikenal selalu memperjuangkan harmoni dan kerukunan antar umat beragama. Dia berhasil membangun hubungan konstruktif berdasarkan pikiran terbuka dengan tokoh Kristen seperti Dr Th. Sumartana, Kepala Institut DIAN Interfidei, dan pastur intelektual Dr. Eka Darmaputera. Sebagai salah satu perempuan Bali pertama yang memperoleh pendidikan tinggi, Ibu Gedong juga berperan aktif dalam gerakan emansipasi perempuan di Bali dengan mendirikan Yayasan Kosala Wanita dan Yayasan Kesejahteraan Perempuan yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan fasilitas kesehatan untuk perempuan.

Ibu Gedong meninggal dunia pada tahun 2002 tetapi rohnya tetap ada di antara kita, di antara semua orang yang mengupayakan perdamaian. Dari beliau kita mendapatkan banyak pelajaran mengenai perjuangan tanpa kekerasan dan harmonisasi agama untuk perdamaian. “Tak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan perdamaian. Karena perdamaian adalah hajat hidup itu sendiri!”

Mari Berbagi :