FPI dan Mayoritas Yang Tertindas

629 total, 2 today

Kata teraniyaya, tertindas, terdzolimi, sering kali diteriakkan oleh beberapa orang yang memang selalu memenuhi ruang publik dengan segala macam keributan. Salah satunya adalah Rizieq Shihab yang berulang kali meneriakkan ketertindasannya. Dia mencoba mempersepsikan Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini sebagai kaum yang tertindas.

Logika saya mencoba mencerna keadaan ini. Apakah dimungkinkan sebuah komunitas yang menyandang status mayoritas untuk ditindas? Lalu ditindas oleh siapa? Oleh minoritas?

Mari kita mencoba berpikir sehat. Pendekatan yang paling masuk akal untuk membahas ketertindasan sebenarnya adalah pendekatan kelas bukan pendekatan identitas. Tapi kali ini saya coba ikuti logika yang digunakan oleh Rizieq.

Yang tertindas itu sebenarnya bukan umat Islam secara umum, yang tertindas adalah Rizieq Shihab dan kaum radikal yang ada dibelakangnya, karena mereka adalah minoritas yang kebetulan beragama mayoritas. Mereka hanya mencoba membawa nama Islam agar mayoritas umat islam secara keseluruhan ikut terseret dalam permainan Rizieq. Mereka mencoba mengaitkan gerakan radikal yang mereka bawakan dengan mayoritas umat Islam yang mencintai kedamaian.

Logikanya begini, yang sering meneriakkan ketertindasan adalah Rizieq Sihab yang notabene adalah pimpinan FPI. Dia sering meneriakkan ketertindasan umat Islam, tapi apakah seluruh umat Islam Indonesia diwakili oleh Rizieq Shihab? Jawabannya tentu tidak. Yang diwakili oleh Rizieq Shihab adalah umat Islam yang tergabung dalam FPI yang merupakan organisasi yang dipimpinnya.

Kenapa FPI merasa tertindas? Karena ruang gerak mereka mulai dibatasi. Mereka terlalu banyak menyebabkan keributan dan kerap kali melakukan aksi – aksi yang bisa menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

Kalau kita gunakan statistisk, jumlah anggota FPI di seluruh Indonesia menurut klaim mereka adalah sekitar 7 juta orang. Sedangkan total umat Islam yang ada di Indonesia yang berjumlah sekitar 218 juta lebih. Jika kita gunakan presentase maka yang didapatkan adalah anggota FPI hanya 3 persen dari seluruh umat Islam di Indonesia. Bisakah 3 persen dikatakan mewakili 100 persen? saya rasa tidak.

FPI adalah minoritas dikalangan umat Islam sendiri, mereka dan gerakan radikal yang dibawakannya adalah minoritas di Indonesia. Mereka sedang berusaha untuk terlihat besar dengan mengait – ngaitkan diri kepada umat Islam melalui slogan – slogan yang sering mereka teriakkan. Mayoritas umat Islam di Indonesia tidak setuju dengan apa yang dibawakan oleh Rizieq dan organisasinya.

Untuk beberapa orang, slogan “membela umat Islam” yang sering diteriakkan Rizieq dan FPI mungkin terdengar konyol, tapi untuk sebagian orang lainnya, mereka merasa terwakili oleh FPI meskipun mereka bukan bagian dari FPI, hanya karena ada kata Islam di dalam slogan tersebut.

Organisasi semacam FPI ini memerlukan dukungan masyarakat untuk menjalankan aksi – aksi mereka, oleh karena itu, kebanyakan organisasi semacam ini menamai diri mereka dengan atribut identitas yang hendak mereka wakilli. Mereka menggunakan nama Islam untuk membuat seolah – olah mereka mewakili Islam.

Hal ini sah – sah saja dalam organisasi, karena memang bertujuan untuk merangkul massa. Tapi kita sebagai masyarakat hendaknya juga bersikap kritis dan mempertanyakan sepak terjang organisasi – organisasi semacam ini. Karena ketika kita mendukung berarti kita telah merelakan satu identitas yang melekat pada diri kita untuk diwakili.

Perlu untuk kita pahami bersama, asosiasi identitas dalam nama organisasi sering membawa pada kekeliruan dalam berpikir (logical fallacy) jenis Fallcy of Hasty Generalization atau Kekeliruan berfikir dalam membuat kesimpulan umum (generalisasi) dari objek atau hal individual yang tidak mencakup keseluruhan. Sederhanya, kesalahan cara berpikir karena menggeneralisir kelakuan segelintir orang sebagai kelakuan keseluruhan kelompok.

Salah satu contoh paling sederhana adalah ketika kita mendukung FPI, berarti kita mengamini satu identitas keagamaan yang melekat pada diri kita yaitu agama Islam untuk diwakili oleh FPI. Ketika kemudian FPI melakukan sweeping maupun aksi yang mengandung unsur kekerasan lainnya, berarti kita mengamini kalau Islam mendukung kekerasan.

Eksploitasi kesalahan berpikir seperti ini sering kali mereka gunakan sebagai propaganda melalui slogan – slogan yang mereka teriakkan di ruang publik. Mereka seolah – olah mewakili umat Islam, bahkan mereka seringkali bertindak mengatasnamakan umat Islam.

Hal ini semakin menjadi – jadi ketika slogan – slogan mereka diteriakkan berulang – ulang di ruang publik. Propaganda semacam ini sangat berbahaya ketika seolah – olah umat Islam melegitimasi aksi – aksi yang mereka lakukan untuk mengintimidasi kelompok masyarakat lainnya. Ini bisa berujung pada perpecahan dan permusuhan di tengah masyarakat yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi tersebut.

Terakhir, FPI adalah sebuah organisasi, oleh karena itu, kita harus memandang mereka sebagai sebuah organisasi, bukan sebagai yang mewakili umat Islam. Setiap organisasi membawa sebuah kepentingan. Melawan FPI bukan berarti melawan umat Islam, tapi melawan kepentingan yang mereka bawa yang sudah tidak sesuai dengan tujuan bangsa ini. Bukan hanya FPI, semua organisasi lainnya-pun yang menjual identitas SARA untuk kepentingannya harus kita lawan karena tidak sesuai dengan bangsa kita, yaitu bangsa yang berpancasila dan berbhineka tunggal ika.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :