Esa Tidak Sama Dengan Satu

922 total, 2 today

Membahas sila pertama dari Pancasila tidaklah sejalan jika kita semua bersikukuh membawa sila ini pada pembahasan tentang agama.  Sila pertama adalah sila tentang Ketuhanan, bukan keagamaan. Hendaknya ini yang harus dipahami dulu.

Kelahiran Pancasila bertujuan untuk menetapkan pondasi kita bernegara. Sebagai pondasi, Pancasila haruslah mampu mengakomodir keberagaman yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk keberagaman tentang keimanan atas Tuhan pada masing – masing orang Indonesia.

Kita tahu kalau Pancasila lahir dari Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Berikut kutipan pidatonya yang membahas tentang sila pertama dari Pancasila.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (toleransi), tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid (toleransi). Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Merujuk pada isi pidato tersebut, kita seharusnya memahami bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak sedang membahas agama, tidak pula sedang membahas satu Tuhan, melainkan membahas tentang Bangsa Indonesia yang percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sila ini memberi kita kebebasan untuk mempercayai Tuhan kita masing-masing dan bertakwa terhadap Nya dengan cara masing-masing. Tidak pula kita diharuskan untuk beragama, karena negara kita mengakui adanya aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, jika ada orang yang memaknai sila pertama ini dengan cara yang berbeda, tentu kita bisa pastikan bahwa dia sedang membicarakan Pancasila yang berbeda. Dan kita semua tahu bahwa Pancasila yang diakui oleh negara kita adalah Pancasila yang bersumber dari pidato Bung Karno tersebut. Jika kemudian ada yang membuat Pancasila yang berbeda, bisa kita katakan bahwa dia hendak mengganti Pancasila dengan Pancasila versinya sendiri.

Esa tidak sama dengan satu

Esa bukanlah kata yang menunjukkan bilangan. Esa tidak sama dengan eka, dimana eka adalah bilangan yang menunjukkan satu, kelanjutannya adalah dwi, tri, catur dan seterusnya. Tapi, esa tidak demikian. Esa tidak memiliki kelanjutkan seperti halnya bilangan. Esa adalah kata sifat yang bisa diartikan dengan tunggal. Tapi, esa bukan menunjukkan tunggal sebagai bilangan. Esa bisa kita artikan dengan bersifat tunggal.

Banyak dari kita yang salah mendefinisikan Keesaan Tuhan sebagai satu Tuhan. Padahal, yang dimaksud dengan Keesaan Tuhan itu adalah Kemanunggalan Tuhan. Setiap kita memiliki persepsi sendiri atas Tuhan yang kita yakini. Setiap persepsi memiliki kebenaran tersendiri. Mengakui Keesaan Tuhan berarti mengakui bahwa setiap persepsi atas Tuhan bersifat tunggal. Secara sederhana bisa kita katakan, apapun yang anda dan saya persepsikan tentang Tuhan adalah tunggal. Semua persepsi tentang Tuhan yang hadir dalam setiap jiwa manusia adalah tunggal, karena Tuhan adalah gabungan dari semua persepsi itu.

Setiap ajaran, aliran spiritual atau agama memiliki persepsinya dan keyakinannya masing-masing tentang Tuhan. Negara kita mengakui itu semua. Itulah kenapa, selain agama, negara kita juga mengakui adanya aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, kalau kita simpulkan, Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa berarti negara mengakui Tuhan yang hadir dalam setiap jiwa manusia. Tidak ada persepsi satu orang atau sekelompok orang yang paling benar atas Tuhan, karena setiap persepsi hanyalah mewakili satu dari sekian banyak persepsi yang menunjukkan Keesaan Tuhan.

Para pendiri bangsa kita tentu sudah memikirkan perihal Ketuhanan ini. Mereka merumuskan setiap sila dalam Pancasila dengan rumusan yang sangat matang untuk mengakomodir keberagaman bangsa kita.

Jika kemudian belakangan muncul orang-orang yang membuat tafsir mereka sendiri tentang Pancasila, bisa kita katakan mereka sebagai orang yang lahir kemarin sore tapi ngakunya sudah sepuh. Atau lebih sederhananya mereka adalah manusia dengan otak anak TK tapi ngakunya sarjana. Udah gitu aja.

Kopi sik, jak Samsu katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

5 × one =