Dilema guru karena orang tua yang gagal paham

637 total, 1 today

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi. Kupergi sekolah sampai kan nanti.
Selamat belajar nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat.
Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman.

Untuk yang belum tahu lagunya, silahkan dengarkan versi cover dari Dialog Dini Hari di link berikut : https://www.youtube.com/watch?v=OT-5ZQvhfOg

Lagu diatas adalah lagu wajib ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Hampir setiap anak sekolah dasar mengenal lagu ini. Menurut saya, ini adalah lagu fondasi alam bawah sadar anak untuk bisa bersikap saling menghormati dan menghargai baik itu kepada guru maupun ke sesama teman. Anak yang baik disebutkan sebagai anak yang budiman. Ketika sekolah dulu, menjadi anak yang budiman menjadi sebuah kewajiban yang dijalani oleh setiap anak. Sekarang budiman sudah tidak lagi terdengar gaungnya. Entah kemana perginya istilah ini. semua tergerus jaman yang serba kekinian dan cenderung untuk bebas tanpa batas, bahkan tanpa batasan norma sekalipun.

Kita lihat beberapa foto yang beredar di sosial media maupun di media online yang menunjukkan siswa sudah tidak menghormati gurunya. yang lebih ekstrem lagi ketika siswa ditegur oleh guru, orang tua siswa malah melaporkan oknum guru tersebut dan memenjarakannya. Profesi guru terlihat seolah sudah tidak ada harganya lagi, bahkan terlihat jauh dibawah profesi yang lainnya. Saya masih ingat istilah “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang sebenarnya memaknai guru sebagai pahlawan hanya tanpa bintang atau tanda jasa seperti pahlawan lainnya. Guru adalah profesi yang paling mulia yang saya ketahui. Dan tanpa guru saya mungkin tidak akan bisa menulis seperti sekarang ini.

Menurut analisis saya, kejadian ini saya sebut sebagai kejadian “Orang tua yang gagal paham”. Kenapa justru orang tua yang saya salahkan disini, karena memang kunci dari permasalah ini ada pada pihak orang tua yang kurang paham mengenai makna sekolah dan kasih sayang terhadap anak. Saya akan jelaskan lebih terperinci dibawah.

Sekolah kalau saya boleh sederhanakan definisinya adalah tempat penitipan anak untuk dididik sesuai dengan jenjang umurnya yang dibagi dengan kelas – kelas. Sama seperti halnya ketika menitipkan anak kedalam playgroup atau penitipan lainnya, orang tua sebaiknya mempercayakan tentang pendidikan anaknya kepada tempat dimana dia menitipkan. Orang tua boleh mempertanyakan, atau menggugat, atau melaporkan ketika anaknya mendapat salah perlakuan dan ada perubahan yang ekstrem yang terjadi pada anak. Misalnya, semenjak sekolah anak menjadi pendiam dan murung, ada luka fisik pada anak, atau ada bekas perlakuan kasar yang menyebabkan trauma pada anak tersebut.

Menurut saya peran orang tua harus lebih mulai dari memilih tempat yang mereka percaya untuk menitipkan anaknya, hingga mendampingi pendidikan anak dirumah untuk melanjutkan apa yang diberikan di sekolah. Yang harus dipahami disini adalah tanggung jawab seorang guru hanya sebatas pendidikan selama di sekolah saja, diluar daripada itu adalah peranan orang tua.

Setiap sekolah mempunyai disiplin dan cara didik yang berbeda, sekarang tinggal orang tua yang memilih anaknya mau dididik seperti apa dan mau dibentuk seperti apa, tinggal pilih sekolah yang sesuai dan percayakan anak pada sekolah tersebut.

Ketika kelakuan anak sudah tidak sewajarnya di lingkungan sekolah dan guru mengingatkan apakah ini menjadi salah pihak sekolah?. Dan kalau situasinya dibalik, orang tua yang bermasalah dengan cara sekolah mendidik anaknya, apakah ini adalah salah sekolah? Ini yang saya maksudkan dengan orang tua yang “gagal paham”. Karena yang memilih sekolah tersebut adalah orang tua itu sendiri. Pihak sekolah hanya menawarkan kepada para orang tua untuk menitipkan anaknya di sekolah mereka, kalau orang tua tidak setuju, sekolah tentu tidak akan memaksakan.

Jaman saya sekolah dulu, ketika guru memarahi saya disekolah, orang tua saya bukan membela, malah saya dimarahi lebih parah lagi. Ini karena orang tua saya sudah mempercayakan pendidikan anaknya ke pihak sekolah. Saya rasa sekolah juga tidak akan semena – mena memarahi anak kalau tidak ada salahnya. Pihak sekolah juga akan senantiasa menjaga kualitas anak didiknya agar menjadi anak yang budiman.

Kesalahan terbesar orang tua adalah mendukung segala tingkah polah anak dan ikut menyalahkan sekolah atas apa yang terjadi pada anak. Menurut saya ini menjadi fatal karena dimata anak, guru tidak akan bisa berbuat apa – apa kalau orang tua yang turun tangan, pihak guru juga tidak bisa berbuat maksimal karena tidak mau terlibat masalah dengan pihak orang tua anak. Pihak guru bisa terancam pemecatan kalau ini terjadi. Dilema ini menjadikan guru sekarang cenderung untuk mendiamkan kelakuan anak yang belakangan sudah sangat melewati batas bahkan cenderung tidak bermoral.

Saya rasa solusi dari masalah ini sederhana, kedewasaan pihak orang tua yang diperlukan untuk mempercayakan pedidikan anaknya kepada pihak sekolah. Tugas orang tua hanya mengawasi kalau ada kejanggalan atau perlakuan tidak wajar dari pihak sekolah kepada anak itu sendiri. Peranan orang tua untuk mengawasi anak di luar sekolah juga sangat penting untuk menjaga anak agar tidak terkontaminasi hal – hal diluar kewajaran diluar sekolah maupun diluar rumah.

Selama orang tua masih menyalahkan guru atas hal – hal sepele atas kelakuan anak, saya rasa pendidikan seperti apapun yang dicanangkan sekolah tidak akan berhasil secara maksimal. Diperlukan dukungan orang tua yang kuat untuk bisa membawa anaknya kepada keberhasilan melalui pendidikan di sekolah. Atau kalau orang tua tidak percaya dengan pihak sekolah, masih ada pilihan private school. Tinggal siapkan dananya saja. Simple kan.

Ahhhhh.. nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

1 × two =