Dibalik Sikap Anti-Diskusi Dalam Media Sosial

284 total, 1 today

Beberapa kali saya mencoba berdiskusi dengan akun – akun di media sosial yang menuliskan tema agama dalam kerangka salah logika (logical fallacy) dengan motif untuk mendiskreditkan satu golongan tertentu.

Tidak banyak yang saya bahas, hanya menunjukkan dalam kolom komentarnya sebuah video sebagai bukti bahwa logika yang mereka gunakan sebagai dasar agama yang paling benar masih bisa dipertanyakan, terutama tentang cara penganutnya mengadopsi cinta kasih dalam kerangka kemanusiaan dan saling menghormati perbedaan keyakinan. Saya tidak mendapatkan bantahan apapun, saya langsung di blok.

Kolom komentar sebenarnya bagian dari hak jawab, hak untuk berargumentasi dengan sudut pandang yang berbeda tentang sebuah informasi. Melalui kolom komentar inilah kita diberikan akses yang seluas – luasnya untuk membantah, membenarkan, dan lain – lain, sehingga siapapun yang tertarik dengan informasi tersebut bisa melihat dengan lebih berimbang, bisa melihat dengan berbagai sudut pandang dan bisa menarik kesimpulan dengan lebih baik tentang sebuah informasi.

Ketika hak jawab dibatasi hanya untuk orang yang setuju dengan menghapus atau memblok yang tidak setuju, disanalah informasi menjadi tidak sehat karena memaksakan informasi tersebut ditelaah hanya dari satu sudut pandang tanpa mengijinkan sudut pandang lain sebagai pertimbangan. Istilah lainnya adalah pemutlakan sudut pandang. Generasi 70an hingga 90an tahu betul rasanya berada dalam sudut pandang yang dimutlakkan.

Ada beberapa sebab kenapa orang memutlakkan sudut pandang. Pertama, karena kebutaan intelektual yang menyebabkan penolakan terhadap sudut pandang baru meskipun sudut pandang yang baru tersebut penuh dengan argumentasi dan fakta yang valid. Kedua, karena kesengajaan yang bertujuan membatasi pemikiran kritis dan memudahkan penggiringan opini untuk kepentingan tertentu. Kebanyakan penggiringan opini dilakukan dengan motif politis, dan dijalankan secara terstruktur sistematis dan masif.

Sangat sulit mengidentifikasi kedua sebab tersebut dalam satu orang, karena prilakunya sama, tanpa argumentasi dan langsung blok. Kebanyakan yang saya temui, informasi yang disampaikan cenderung mendiskreditkan satu golongan atau kelompok tertentu, ada beberapa juga yang menyampaikan informasi bohong atau hoax. Kebohongan tanpa bantahan justru akan sangat berbahaya karena akan dianggap sebagai kebenaran jika disampaikan berulang – ulang.

Sekarang ini, dunia politik tidak bisa kita lepaskan dari media sosial. Efektifitas media sosial sebagai sarana politik sudah terbukti dan banyak melahirkan orang – orang yang mampu mempengaruhi pilihan politik seseorang. Anda bisa bayangkan apa yang terjadi jika kebohongan atau hoax digunakan untuk mempengaruhi pilihan politik seseorang, kemudian disebarkan secara struktur, sistematis dan masif, ditambah lagi dengan mematikan semua argumentasi lain yang berbeda dengan memblok akun – akun tersebut. Politik yang brutal dan kotorlah yang tergambar dari sana.

Fenomena terbaru dalam media sosial saat ini adalah ramainya “pembunuhan” terhadap akun media sosial yang menyampaikan opini yang berbeda dengan melakukan RAS (Report as Spam) secara beramai – ramai oleh satu kelompok tertentu. Tujuannya sama, memutlakkan satu sudut pandang dengan mematikan sudut pandang yang lain. Kelompok ini digerakkan untuk kepentingan tertentu dan bergerak secara masif mencari dan berusaha dengan berbagai cara menutup akun – akun dengan pandangan berbeda, terutama akun dengan tulisan yang telah viral.

Pemutlakan sudut pandang, umum berlaku di media sosial sekarang ini. Orang dengan mudah menghapus bantahan dan menutup akses kedalam diskusi dimana kita terlibat. Saya khawatir jika ini berkembang menjadi sangat jauh dan membentuk kelompok – kelompok yang justru merasa paling benar antar satu dan lainnya, sehingga definisi fakta berubah menjadi hanya sebatas informasi mana yang dibenarkan oleh banyak orang. Satu kesalahan logika yang menggiring pada kesalahan logika lainnya. Atau jangan – jangan ini memang sudah terjadi?

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

eleven + fourteen =