Di Balik Berjuang Untuk Agama

525 total, 1 today

Saya masih sulit untuk memahami istilah “berjuang untuk agama” karena dalam pemahaman saya, kata berjuang memiliki makna merebut sesuatu dengan berperang. Contohnya berjuang untuk kemerdekaan, maknanya merebut kemerdekaan dari penjajah dengan cara berperang. Apakah berjuang untuk agama berarti merebut agama? Dari siapa? Apakah selama ini kita tidak mempunyai agama?

Pertanyaan dasar ini sering mengusik saya ketika melihat beberapa orang dengan menggebu – gebu mengumandangkan kalimat “berjuang untuk agama”. Pejuang yang terlihat gagah, macho, keren, dan ditasbihkan dengan sebutan “pasukan suci”.

Setiap manusia memiliki sikap heroik, satu sisi yang selalu bergemuruh ketika dihadapkan pada nilai – nilai bathil, ketidakadilan, penindasan, penjajahan. Satu sikap yang membuat seseorang ingin melakukan sesuatu untuk membela. Satu dorongan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya demi nilai – nilai yang sedang dibelanya dari rongrongan musuh.

Pada dasarnya sikap heroik merupakan sisi yang baik dari setiap manusia karena memiliki nilai membela kebenaran, membela yang lemah, membela yang tertindas. Sikap heroik pada sisi lain membuat seseorang menjadi berani dan tanpa segan membunuh orang lain yang menjadi musuhnya. Kita bisa melihat contohnya pada cerita perjuangan kemerdekaan dan cerita tentara dalam peperangan.

Melihat sejarah, sikap heroik yang ada pada manusia sering dieksploitasi dengan memanipulasi kebenaran dan menggantinya dengan kebohongan yang berulang. Ada banyak contohnya. Pelaku bom bunuh diri adalah salah satu contoh orang yang tergerak untuk mengorbankan nyawa dan membunuh banyak orang karena terpanggil sikap heroiknya untuk membela agama. Contoh lainnya adalah Hitler dan pasukan Nazi.

Hitler dan pasukan Nazi membantai sekitar 6 juta orang dengan menciptakan musuh dalam pikiran etnis Jerman. Musuh yang berasal dari luar etnis Jerman seperti Yahudi, Romani, homoseksual dan Bolshevik. Hitler mempropagandakan kesengsaraan etnis Jerman yang berada di luar Jerman yang disebabkan oleh musuh – musuh Jerman. Pembantaian oleh Polandia, Perampokan dan Penculikan anak – anak kecil oleh orang Yahudi adalah bagian dari propaganda Hitler yang secara terus menerus di ulang – ulang oleh medianya sehingga dianggap sebagai sebuah kebenaran. Propaganda ini kita kenal dengan teori kebohongan Goebbles. Sikap heroik pasukan Nazi telah dieksploitasi dengan memanipulasi kebenaran dengan menggunakan propaganda ini sehingga pembantaian massal itu terjadi.

Pola yang sama juga digunakan oleh orang – orang yang menyatakan berjuang untuk agama. Mereka menciptakan seolah ada musuh dalam pikiran umat. Mereka mengabarkan penindasan, kesengsaraan dan perlakuan tidak adil atas umat. Mereka menebar kebencian dan permusuhan melalui teori konspirasi dan kebohongan yang mereka ungkapkan berulang – ulang secara terstruktur, sistematis dan masif. Mereka membangun sikap heroik dari umat dengan membentuk “pasukan suci” sebagai garda terdepan yang nantinya akan digerakkan atas nama perjuangan untuk agama. Pasukan gagah berani yang rela berkorban jiwa dan raga demi perjuangan atas nama agama.

Mari kita lihat faktanya.

UUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduknya untuk memeluk agama. Jaminan ini memberikan kebebasan sepenuhnya untuk tiap – tiap penduduk memeluk agama yang diakui di Indonesia, tanpa terkecuali. Tidak ada pembatasan atas Agama. Ini sudah membantah penindasan dan ketidak adilan atas agama yang dilakukan oleh negara.

Jika negara sudah menjamin kebebasan untuk memeluk agama, siapapun atau kelompok manapun di negara ini yang memaksakan keyakinan atau membatasi keyakin suatu agama dikatakan sebagai pelanggaran terhadap konsitusi dan bisa dipidanakan.

Pada kejadian di lapangan, sering kita lihat intimidasi dan pembubaran kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh Ormas. Kejadian ini tidak harus di tanggapi dengan permusuhan atau peperangan. karena kita memiliki KUHP yang mengatakan mengganggu peribadatan umat lain termasuk tindak pidana dan melanggar Pasal 175 dengan ancaman 1 tahun 4 bulan penjara. Ormas – ormas yang menggangu kegiatan peribatan seperti ini lebih baik dilaporkan ke polisi.

Beberapa kejadian pembatasan dan keributan tentang pendirian rumah ibadah memang terjadi karena dianggap dipersulit dalam hal perijinan. Sumber dari masalah ini ada pada SKB 3 Menteri yang mencantumkan syarat tanda tangan 90 orang dimana untuk sebagian orang dirasa sebagai bentuk penindasan mayoritas terhadap minoritas. Tapi apakah hal ini bisa dijadikan pembenaran untuk membentuk pasukan dan berperang? Tidak juga, yang dilakukan seharusnya adalah melakukan judicial review ke MA. Negara sudah memberikan jalannya, jadi silahkan diperjuangkan melalui jalur yang disediakan.

Dalam konteks antar beragama, KUHP juga menjamin hak setiap warga negara untuk tidak dinistakan atau dinodakan agamanya. Jika terbukti, maka dapat dijerat dengan pasal 156a dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun.

Jika negara melalui konstitusi dan UUD 1945 telah menjamin dan melindungi hak – hak umat beragama, lalu siapakah yang menindas umat beragama?, Lalu berjuang untuk agama sebenarnya maknanya apa?, berjuang untuk siapa?.

Kalau kita kembalikan pada contoh Hitler dan Nazi tadi, yang terlihat hanya satu yaitu politik dan kekuasaan. Propaganda semacam ini hanyalah alat politik yang digunakan oleh oknum elite untuk memperoleh kekuasaan dengan mengorbankan masyarakat. Propaganda semacam ini hanya akan melahirkan benturan dan perpecahan di masyarakat. Sejarah telah menunjukkan banyaknya korban atas propaganda semacam ini. oleh karena itu propaganda semacam ini harus terus menerus kita lawan agar tidak menyebabkan korban di masyarakat.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

5 × 1 =