Deklarasi Koster – Parta, Arus Perubahan yang Terhenti di Selat Bali

TOTAL : 477 ( TODAY : 1)

Sudah bisa ditebak sejak awal kalau calon yang digadang – gadang menjadi Calon Gubernur oleh PDIP adalah I Wayan Koster, peraih suara terbanyak di Bali dalam Pileg 2014 lalu. Koster memang memangku jabatan strategis sebagai ketua DPD PDIP Bali. Sebagai anggota DPR RI, Koster berada di Komisi X, yang menangani masalah pendidikan, olahraga dan sejarah. Beberapa waktu lalu, Koster pernah ikut terseret dalam arus kicauan Nazaruddin, yang menyebutnya terlibat dalam kasus wisma atlet. Tapi hingga kini tudingan tersebut tidak terbukti, karena hingga kini, Koster belum pernah sama sekali mengenakan rompi oranye khas KPK.

Arus gelombang perubahan rupanya belum sampai di Bali. Jakarta memunculkan Ahok, Jawa Barat memunculkan 2 tokoh, Dedi Mulyadi dan  Ridwan Kamil, Jawa Tengah dengan Ganjar Pranowo, dan di Jawa Timur muncul Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Arus ini terhenti hanya sampai di Jawa Timur saja. Mungkin arus perubahan ini sedang terhalang karang yang masih tinggi menjulang di selat Bali. Terbukti dengan munculnya tokoh politisi senior, atau politisi lama, yang diusung oleh sebagian besar DPC PDIP yang ada di Bali untuk maju sebagai Calon Gubernur.

Saya pernah berharap, jika Bali akan ikut dalam arus perubahan yang terjadi di sebagian besar pulau jawa, arus perubahan yang berhembus dari pulau jawa, bergerak ke timur, terus hingga ke seluruh indonesia. Sepertinya harapan ini harus kandas untuk Pilgub 2018 ini, karena di Bali, Generasi profesional gila kerja, generasi yang gila akan perbaikan dan pembenahan daerah yang begitu di rindukan oleh Bali, masih terhalangi oleh kekuatan cengkraman politisi senior yang memang sejak lama telah menguasai panggung politik Bali.

Tokoh minim citra tapi maksimal kinerja ada banyak di Bali, tapi saking minim pencitraannya hingga tidak muncul ke permukaan sama sekali, bahkan kebanyakan dari mereka tidak tertarik dengan panggung politik. Kedepannya, saya rasa tokoh seperti ini harus lebih di dorong untuk mengikuti jejak yang lain, publikasi kinerja mereka. Hingga masyarakat tidak akan sulit untuk menilai, mana yang sebenarnya memberi dampak untuk Bali, dan mana yang hanya sekedar retorika belaka.

Hampir semua tokoh yang muncul ke permukaan saat ini adalah tokoh maksimal pencitraan, tapi kinerja masih sangat diragukan. Tugas – tugas yang memang menjadi urusan masing – masing sangat minim terlihat hasilnya. Yang ada gembar – gembor kinerja, bahkan terkesan mengaburkan tugas masing – masing demi memaksimalkan pencitraan itu sendiri. Dari kacamata awam, memang akan terlihat sangat populer, tapi dari kacamata profesional, sungguh sangat memalukan. Terlalu banyak membengkalaikan tugas yang seharusnya menjadi kewajiban masing – masing, demi ambisi jabatan semata.

Pencitraan itu sah – sah saja, bahkan publikasi menjadi tuntutan wajib dari para pejabat atau politisi yang memang kinerjanya bersinggungan dengan masyarakat. Istilah lainnya, mereka harus melaporkan hasil kerjanya ke masyarakat dengan publikasi itu sendiri, dan masyarakat lah yang menilai, apakah pejabat tersebut bisa bekerja sesuai dengan tugas mereka masing – masing yang diatur dalam Undang – Undang. Istilah paling sederhana yang bisa saya ungkapkan, SOP nya jalan, publikasinya juga jalan.

Setiap tahun, Jokowi selalu memberikan presentasi tentang apa yang sudah dikerjakan dan rencana kedepannya dalam bentuk slide show yang bagus dan profesional, masyarakat pun melihat dan mengerti masalah yang dihadapi dan yang telah terselesaikan, pembuktikan hasilnya juga memang nyata ada. Perkembangan dari tiap pembangunan juga terlihat. Inilah yang saya maksudkan dengan perubahan, kalau dulu kita tidak pernah paham dengan rencana pemerintah dan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah, sekarang, dalam 2 tahun pemerintahan Jokowi, kita semua bisa mengerti apa yang telah berjalan, dan apa yang masih terhambat, dan sampai dimana pembangunan negeri kita.

Mungkin memang keadaan Bali masih belum siap dengan arus perubahan yang mengarah kepada kinerja yang profesional dan menuju pembangunan yang lebih baik. Disamping tokoh perubahan itu masih tersembunyi di suatu sudut di Bali, dan sekarang mungkin kita memang harus menikmati arus pencitraan maksimal dari para politisi dalam perebutan kursi Gubernur Bali. Nikmati saja pertunjukkannya, sambil kita menilai siapa – siapa yang memang pantas untuk kita dukung.

Politik itu seperti panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, tidak ada yang abadi dalam dunia politik, yang abadi hanya kepentingan. Ada yang kepentingannya untuk kekuasaan, ada yang kepentingannya untuk segelintir orang yang mampu memberikan dana, ada juga yang kepentingannya untuk perubahan pembangunan Bali menuju kondisi yang lebih baik dengan memecahkan masalah – masalah yang ada.

Masalah yang paling urgent di Bali saat ini adalah masalah, kemiskinan, pendidikan, dan kependudukan di beberapa daerah. Tanpa kita sadari masalah ini akan memunculkan peningkatan angka kriminalitas dan tingginya arus gerakan radikal yang menyusup ke tengah masyarakat karena ulah segelintir orang. Tanpa penanganan yang tepat, tidak bisa kita pungkiri, kalau Bali akan menjadi pulau metropolis dengan angka kriminalitas tinggi.

Kita memang harus memiliki Gubernur, dan proses pemilihan Gubernur memang telah ditentukan tata cara pelaksanaannya, kita tidak akan mungkin merubahnya, tapi kita semua punya 1 hak suara untuk menentukan siapa yang berhak duduk di kursi Gubernur. Jangan kita sia – siakan. Golput berarti membiarkan tokoh yang tidak berhak. dan nilai rupiah dari 1 suara tersebut adalah tidak terhingga, karena ditangan kitalah masa depan Bali ini 5 tahun kedepan, jadi kalau ada yang terima uang atas hak suaranya, berarti kalian tidak perduli dengan kondisi Bali yang akan carut marut dengan pemimpin yang tidak pantas.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :
  • Namanya juga politik. Selama ongkos politik masih mahal, bakalan susah nyari pemimpin yg bersih

    • Tapi harapan akan perubahan harus terus ada di diri kita masing – masing pak. Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim sudah bisa, giliran Bali selanjutnya yang menghadirkan perubahan pak. 🙂

    • Masyarakatnya jangan hanya mau dipolitisir dengan berbagai cara kotor money politic. Bale banjar / desa disumbang oleh si A akirnya pas pemilu jelek asane yen sing milih si A padahal orangnya korup dan penjudi

    • nike sampun kendala yang banyak terjadi pak. tapi kalau di mulai dari riak – riak kecil, tiang rasa beberapa generasi muda kita di bali, masih ada yang idealis dan tidak mau dibayar. semakin banyak yang tidak mau dibayar, semakin baik perkembangan politik bali kedepannya. karena politisi akan tau kalau kedaulatan memang ada di tangan rakyat.

  • Mantap tulisannya bli…

  • Sube sing cocok dihati si banteng jani.

  • Rge jek med memilih…ane madan polotik…jek kanggong dogen mebalih..api pilih rge sing ade ngerunguwang..kone ade madan bedah rmah..umah rge benyah ne sing ade ne ngerunguwang…keweh dadi orang kecil jek selalu dikucikan..

    • harapan selalu ada bli. memilih pemimpin yang baik adalah hak kita semua. sebaiknya kita berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, agar kedepannya hak – hak kita juga ikut dipenuhi bli.

    • Dlu saya sdah ikut berpartisipasi…tapi ttp saja saya hak saya gk dpet..cotoh ada bedah rmh..saya gk pnya rmh kq gk dpet.mlahan yg punya rmh bagus”dpet..ini kan gk adil bgi saya…makanxa saya mles skrang memilih..didasa sya basisnya simocong putih…tpi skrng mles saya..partae ape je yg me benerin rmh saya..nntik itu mw saya plih

    • nggih bli…

  • Pak made saya bisa minta no kontak, seperti asik kl bisa ngbrol sama bapak membuka wawasan bgt