Cyber Kremi – Teriakan Maksimal Skill Minimalis

698 total, 1 today

Saya tertarik untuk membahas dan menelusuri keberadaan gerombolan orang yang melabeli diri mereka Cyber Kremi (Cyber Army). Nama yang terdengar hebat dan menakutkan, bahkan sering mengidentikkan diri dengan kelompok Hacker kelas dunia seperti Anonymous, padahal istilah Hacker-pun baru mereka dengar kemarin sore. Perbedaan antara Hacker dan Cracker juga saya yakin mereka tidak paham. Mereka bahkan belum pada level Script Kiddies, atau mungkin mereka belum mengenal istilah ini. Atau jangan – jangan mereka tidak tahu apa itu Script?

Beberapa klaim kebodohan Cyber Kremi ini telah mereka publikasikan sendiri, termasuk klaim atas deface situs Humas Mabes Polri yang mereka lakukan dengan SQL Injection yang faktanya hanya SQL Error. Belum lagi fakta NsLookup yang gagal paham, Whois yang salah sasaran, dan berbagai kebodohan lain yang bermodalkan screencapture di atas MsDOS dengan perintah yang terlihat nge-IT banget agar dipercaya oleh ribuan akun yang siap sedia menyebarkannya dengan komentar yang tidak kalah dahsyat

Lupakan pemahaman kalau Cyber Kremi ini terdiri dari orang – orang dengan skill hacking, saya meragukan ini sepenuhnya.

Istilah Cyber Kremi sebenarnya telah ada pada tahun 2011 lalu melalui sebuah deklarasi oleh PKS. Cyber Kremi ini digerakkan oleh masing – masing DPW PKS yang digunakan sebagai alat kampanye di media sosial, tertutama untuk kampanye pemilu 2014 lalu.

Cyber Kremi tidak lebih dari sekumpulan buzzer di media sosial. Mereka terdiri dari pembuat dan penyebar konten. Mereka bekerja mirip seperti cara kerja portalpuyengan yang terkenal dengan pembuat konten plintiran. Sama, Cyber Kremi ini juga pembuat konten plintiran, kalau dilihat gaya – gayanya mirip dengan konten yang diproduksi oleh baginda Jontor. Konten salah logika dan berbau hoax.

Mungkin kita masih ingat dengan pelatihan dengan menggunakan istilah Cyber Kremi yang dilakukan oleh baginda Jontor tahun 2016 lalu. Pelatihan yang dilakukan di beberapa daerah dengan berbasis media sosial. Saya mencurigai, Cyber Kremi yang sekarang ini adalah hasil didikan dari baginda Jontor.

Skil yang mereka miliki adalah skill rata – rata pengguna media sosial pada umumnya. Kita semua pun bisa melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok Cyber Kremi ini. Membuat fans page, menulis status, berkomentar, screencapture status akun – akun yang nyinyir terhadap junjungan mereka dan melaporkan akun yang nyinyir secara beramai – ramai.

Beberapa orang yang berada dibelakang Cyber Kremi adalah blogger, pembuat konten, pembuat tulisan dan argumentasi untuk mereka sebarkan di media sosial. Tapi jumlahnya tidak banyak. Sebagian besar dari mereka adalah pembuat konten hoax, pembuat meme hoax, salah satunya adalah yang baru – baru ini kena ciduk oleh Direktorat Cyber Bareskrim Polri dan terancam pidana 6 tahun penjara.

Sekali lagi, Cyber Kremi tidaklah sehebat yang mereka teriakkan. Mereka hanyalah sekumpulan buzzer yang sedang mengumpulkan konten berupa screencapture dari status orang – orang di media sosial untuk mereka sebarkan guna mendulang like dan share. Mereka buzzer yang digerakkan untuk mendominasi opini di media sosial, tujuan adalah tujuan politik, tidak lebih. Simpatisan mereka juga saya rasa jumlahnya tidak banyak, kebanyakan akun anonim dan asal share artikel atau konten dalam fans page yang mereka sediakan.

Cyber Kremi hanya bergerak online, di media sosial. Yang berjalan offline adalah ormas yang melakukan intimidasi atas dasar informasi yang dibagikan oleh Cyber Kremi ini, kerjasama atas kesamaan tujuan, yaitu mengintimidasi akun – akun yang nyinyir terhadap junjungan mereka. Kebanyakan ormas yang bergerak adalah FPI, mungkin ada ormas lainnya, saya masih belum menemukan informasinya.

Mereka bertujuan sama, mendominasi opini publik. Mereka adalah sekumpulan orang dengan teriakan maksimal dan skill minimalis, jadi cara yang mereka tahu hanyalah intimidasi. Mereka tidak tahu cara lain selain beramai – ramai mengintimidasi siapapun yang bersuara, mereka tidak tahu cara untuk berpikir kreatif dan menarik simpati publik untuk memenangkan opini.

Saya rasa kita tidak perlu takut untuk bersuara di media sosial selama kita tidak melewati batas – batas koridor penulisan antara lain: tidak menulis status yang berbau SARA, atau muatan kebencian atas nama SARA, atau hal – hal lain yang diatur dalam UU ITE. Bijaklah dalam berkomentar, gunakan komentar yang argumentatif tanpa kata – kata kasar apalagi kata – kata yang berbau penghinaan.

Cyber Kremi akan tetap jadi Cyber Kremi dengan semua konten salah logika dan berbau hoax yang akan terus mereka sebarkan. Seiring dengan waktu, mereka akan hilang dengan sendirinya karena lambat laun masyarakat pasti akan mengerti dan lebih cerdas memilih konten yang bermanfaat bagi mereka sendiri.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

2 COMMENTS

  1. Nah ini sambungan pembicaraan kemaren, yang saya pantau di cyber army, menurut pantauan saya min, ada seoarang dalam cyber army yang ngakunya pernah belajar IT, tapi kok gak ada bukti realnya cuman ya gitu2 aja, 4 hari lalu mereka sempat membahas nasib para hacker isis yang ditangkap dan di hukum gantung, cyber army saat ini lagi diem aja, bahkan ada teman dari cyber army aku salut dia lagi berusaha keras meyakinkan teman2nya untuk tidak buat berita hoax, ada juga yg mau keluar dari cyber, jadi kesimpulannya mereka masih belajar kalau emang hacker jangan koar, saya temui kelemahan bos cyber army ngelu akun Facebook nya terancam tutup sama Om Mark

LEAVE A REPLY

twelve + five =