Cerita tentang Seekor Anjing dan Majikannya

354 total, 1 today

Pada suatu hari diceritakan ada seekor anjing yang dipelihara oleh seorang jendral dengan tujuan untuk menjaga pekarangan sang jendral. Anjing ini dipelihara untuk menghadapi warga masyarakat yang hendak menduduki pekarangan sang jendral, karena anak buah sang jendral tidak diperkenankan untuk melawan masyarakat. Seorang jendral terkenal sungguh tidak baik jika melawan masyarakatnya sendiri.

Anjing peliharaan jendral ini sangat galak, bahkan sering menyalak dan sering menggigit masyarakat. Anjing yang tidak pandang bulu, siapapun yang menolak untuk memberi makan akan segera digigit, bahkan dihancurkan rumahnya. Selalu ada alasan untuk anjing ini menyalak dan menggigit, padahal alasan sebenarnya hanyalah karena anjing ini lapar.

Hari demi hari pun berganti, sang jendral merasa pekarangannya aman setelah memelihara anjing ini. Anjing yang sangat setia, bahkan sanggup melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang jendral. Untuk timbal baliknya, tentu sang jendral harus melindungi si anjing agar senantiasa aman ketika berhadapan dengan hukum ketika terjadi korban atas gigitan si anjing. Atas perlindungan sang jendral inilah si anjing merasa bebas melakukan apa saja yang dia kehendaki.

Semakin hari si anjing semakin bertambah besar. Kadar laparnya pun makin tinggi. Wilayah yang dikuasainya selama ini tidak cukup untuk memenuhi rasa laparnya. Dari sini dimulailah perambahan anjing ke daerah lain, dimana anjing menemukan pelindung lain selain jendral yang memeliharanya tadi. Semakin hari semakin lapar, semakin hari semakin besar, semakin hari semakin banyak yang memberi makan, semakin hari semakin beragam kelakuan si anjing, tergantung perintah dari siapapun yang sanggup memberi makan.

Sekarang anjing ini sudah sangat besar, anjing yang sudah menjadi anjing yang tak bertuan, bahkan sang jendral yang memelihara anjing ini sejak kecil-pun sudah tidak bisa mengendalikannya. Anjing ini hanya bisa dikendalikan oleh rasa laparnya, siapapun yang sanggup memberinya makan, maka dia siap melakukan apa saja, bahkan menghancurkan rumah sang jendral.

Diceritakan pada suatu hari, si anjing yang sudah setiap hari menyalak, bahkan sudah tidak diperdulikan lagi oleh siapapun. Sudah tidak ada yang takut lagi pada anjing ini. Sudah tidak ada yang mau memberi makan pada anjing ini. anjing sudah tidak bisa menyalak lagi, hanya bisa menggonggong.

Gonggongan anjing ini kemudian menemukan sebuah momentum. Ada seorang jendral yang pernah berkuasa di suatu negeri sedang gelisah. Jendral ini gelisah karena sedikit demi sedikit kekuasaan yang dulu pernah dia pegang terkikis dimakan penguasa yang baru. Bahkan setiap tindakan dan kata – katanya selalu jadi bahan tertawaan. Jendral merasa gelisah karena kehilangan wibawanya. Belum lagi ancaman masuk penjara karena korupsi dimasa kekuasaan sang jendral merajalela dan sudah diungkap satu persatu.

Sang jendral memberi anjing tersebut santapan yang lezat, asal si anjing mampu untuk memporak – porandakan rumah si penguasa baru. Selanjutnya silahkan dilanjutkan sendiri, saya rasa semua sudah tahu dimana semua cerita ini berujung sampai sekarang.

Ahhh.. nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

eight − 6 =