Catatan Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta

TOTAL : 433 ( TODAY : 1)

Ada yang menarik ketika menyaksikan debat kandidat pemimpin Jakarta dalam acaar ROSI yang ditayangkan di Kompas TV. Kandidat calon yang hadir hanya 2 yaitu pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, sedangkan pasangan Agus-Sylvi memilih untuk tidak hadir karena alasan yang saya jelaskan disini : http://bungloen.com/mangkir-debat-adalah-bentuk-strategi-dongkrak-popularitas/

Untuk yang belum menyaksikan, tayangannya bisa dilihat di sini : https://www.youtube.com/watch?v=SRRlpDihpkk

Saya rasa, Sudah tidak menarik lagi membahas mangkirnya AHaY dari debat untuk kesekian kalinya, rasanya lebih menarik membahas mengenai 2 pasang Cagub yang justru menunjukkan persaingan secara sehat ke publik.

Seperti kebanyakan debat pada umumnya, adu argumen kedua belah pihak memang sering mengarah keluar dari konteks kinerja dan gagasan, banyak yang mengarah pada nyinyir akan kelemahan lawan. Tapi Secara umum, debat kedua pasang calon ini adalah debat yang sangat – sangat sehat, dan saya rasa memang patut menjadi contoh untuk pemimpin daerah lainnya.

Kekuatan dari debat kedua pasang calon tersebut adalah bekal data dan pengolahan opini. Data memang sering digunakan untuk membentuk opini yang missleading atau opini mengarah kepada jalur yang berbeda. Tidak bisa kita pungkiri ini banyak sekali terjadi dan menjadi strategi dari media baik itu televisi, cetak, maupun digital untuk membentuk opini dalam masyarakat.

Contohnya begini, Data Pengangguran di Jakarta yang dikatakan oleh tim kampanye Anies-Sandi lebih tinggi dari indonesia. Data tersebut benar, tapi missleading. Membaca statistik tentang kemajuan sebuah daerah seharusnya menggunakan perbadingan dengan data sebelumnya. Inilah yang dijelaskan oleh Ahok. Dimana kalau dibandingkan dengan data tahun 2014 angka pengangguran 9,84% turun di tahun 2015 menjadi 5,77%. Penurunan angka pengangguran tersebut melebihi angka penurunan pengangguran nasional.

Kedua bekal data tadi memang data yang sah, atau data yang menggunakan fakta dengan sumber yang jelas. Tapi bisa membentuk 2 opini yang berbeda, tergantung dari sudut mana kita menilainya. Hal ini berlaku juga untuk masalah keterserapan anggaran, partisipasi pendidikan, jumlah kemiskinan, dan data – data lainnya yang digunakan dalam mengukur kemajuan pembangunan.

Satu hal baru yang dihadirkan dalam debat yang terjadi semalam adalah Roasting oleh musisi Tompi, saya pikir ini adalah hal baru yang ada di dunia politik kita. Roasting semacam ini adalah hal yang saya rasa bisa menyehatkan kondisi perpolitikan Indonesia. Hal seperti ini bisa menjaga kedewasaan dalam berpolitik untuk setiap politisi yang bertanding dalam event politik seperti pilkada atau event politik lainnya.

Di negara yang sudah menganut demokrasi ratusan tahun seperti Amerika Serikat, roasting semacam ini sudah menjadi hal yang biasa, bahkan sudah menjadi acara wajib pada setiap event politik yang ada di negara tersebut. Setiap orang boleh nyinyir, atau melakukan roast. Bahkan roast dengan kemasan musik atau komedi adalah hal yang ampuh untuk menyalurkan kritik terhadap orang terpenting sekelas Presiden sekalipun. Itulah dunia demokrasi yang sesungguhnya. Tapi ingat, nyinyir juga ada takarannya dan ada sopan santun dalam penyampaiannya.

Pada sesi terakhir dari acara debat tersebut saya melihat pasangan Anies-Sandi menggunakan sebuah lagu dengan tema Islami. saya rasa cara ini adalah cara yang mereka gunakan untuk merangkul swing voter yang beragama Islam yang mungkin terpengaruh oleh kasus Ahok yang sedang dalam masa persidangan. Tapi ada yang sedikit menggelitik saya ketika menyaksikan nyanyian tersebut, saya justru teringat pada pak mantan yang suka bernyanyi. Melalui pak mantan inilah terbentuk image kalau yang suka bernyanyi biasanya pemerintahannya autopilot. Apakah mungkin nanti pasangan ini akan menelurkan album? Kalau iya, berarti asumsi masyarakat selama ini benar adanya, kalau bernyanyi memang berhubungan dengan pemerintahan yang autopilot.

Akhir cerita, debat semalam adalah contoh wujud nyata kedewasaan berpolitik yang ditunjukkan oleh kedua pasang calon. Keduanya menunjukkan kualitas perdebatan yang menggunakan fakta dan data yang valid. Saya tidak bisa meramalkan kalau pasangan no 1 hadir disana, mungkin ceritanya bisa berbeda.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :
  • Usul buat media TV,kalau ngundang calon nomer 1,jangan cuma team sukses dan wakilnya saja…semua keluarga juga diundang pasti kandidat nomer 1 datang…