Calon Tunggal di Buleleng Kegagalan KBM Memenangkan Perhatian Publik

262 total, 1 today

Fenomena kontestasi politik beberapa daerah di Indonesia memang sangat dinamis belakangan ini. Mulai dari tokoh yang elektabilitasnya tidak tersaingi hingga tidak adanya calon untuk menyaingi, sampai pada hanya calon pertahana yang maju tanpa lawan.

Sejak awal Rochineng yang digadang – gadang akan mewakili Koalisi Buleleng Mandara (KBM) pada Pilkada buleleng, malah gagal di tengah jalan. Isu perpecahan partai pengusung KBM juga menjadi salah satu penyebab tidak mampunya KBM menghadirkan tokoh untuk menyaingi pertahana. Kehadiran Sukrawan yang hendak mendobrak dengan maju melalui jalur perseorangan juga gagal di tengah jalan, karena tidak bisa memenuhi kriteria dalam verifikasi faktual tahap kedua yang dilakukan KPUD Buleleng.

Dalam pengamatan saya, partai politik di Bali selalu mencari jalan termudah untuk maju dalam kontestasi politik, baik ketika pemilihan bupati maupun gubernur. Jalan termudah yang saya maksudkan adalah dengan mencalonkan tokoh senior yang menurut saya sangat minim perubahan. Program hanya akan berjalan autopilot seperti sebelum – sebelumnya, terobosan untuk kemajuan tiap – tiap daerah di Bali sangat lambat, bahkan cenderung stagnan atau tidak ada perubahan sama sekali. Kalau ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin kedepannya Bali akan sangat – sangat tertinggal dari daerah lain.

Regenerasi politisi sangat – sangat sulit untuk bisa berjalan di Bali. Tokoh muda sulit untuk bisa menonjol dalam partai politik. Tokoh politik senior yang masih berpegang teguh pada gaya pemikiran konservatif masih bercokol dengan kokoh. Dalam pengamatan saya, mungkin karena dunia politik masih sangat tabu dalam pemikiran anak muda Bali. Pada beberapa sudut sosial di Bali, anak muda yang cenderung cerdas dan berpotensi malah sangat menghindari pembicaraan tentang politik bahkan sangat anti politik. Paradoks yang melekat hanya bekerja untuk penghidupan, tanpa sadar kalau kedepannya sumber penghidupannya justru bisa hilang diberangus oleh carut marutnya dunia politik.

Kalau kita amati cara – cara partai politik mencari perhatian publik saat ini, hampir semua mengandalkan gaya selebritas dan festival yang menurut saya sudah sangat – sangat usang. Selebritas dan festival hanya seperti alkohol yang memabukkan sesaat dan kemudian besok semua kembali kepada realitas yaitu kehidupan yang nyata. Masyarakat akan kembali bertanya, hasil apa yang sudah mereka berikan pada kesejahteraan masyarakat.

Gaya mencari perhatian publik dengan cara selebritas dan festival tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Inilah yang menyebabkan biaya politik menjadi mahal, disamping untuk biaya – biaya lainnya yang digunakan untuk menarik massa. Karena politik memang tidak jauh dari modal dan massa.

Padahal kalau kita amati, tanpa selebritas-pun semua bisa berjalan, selama yang dilakukan adalah penawaran akan perubahan yang lebih baik. Perang program atau tawaran program perubahan dan pengetahuan akan cara – cara baru yang bisa menyelesaikan masalah – masalah di daerah justru lebih laku dijual untuk menarik perhatian masyarakat. Track record dan kenyang organisasi dengan memberi kesempatan tokoh muda dengan gagasan perubahan untuk bisa menonjol dalam dunia politik. Jualan seperti itu sekarang sedang laris dan terbukti bisa meminimalisir biaya untuk menarik perhatian publik.

Jadi pesan saya untuk tokoh politik atau pejabat yang hendak bisa maju dalam kontestasi pilkada, sudahlah, mulai bekerja dengan baik untuk kemajuan masyarakat. Saat hasil kerjamu baik, umumkan atau buatkan sebuah wadah sebagai bahan presentasi ke masyarakat, kemudian sebarkan. Dengan begini sudah tidak diperlukan lagi kampanye atau pengenalan dengan mengadakan acara mahal yang menghabiskan banyak biaya. Masyarakat akan mengenal hasil kinerja dan akan memilih berdasarkan kinerja tersebut.

Kalau masih bingung, tirulah cara promosi dan berpolitik di jakarta yang dilakukan oleh ahok. Tidak perlu diinovasikan, cukup tiru mentah – mentah, niscaya masyarakat akan mudah untuk memberikan simpati.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih….

Mari Berbagi :