Busana yang Berbudaya dalam Budaya Berbusana.

445 total, 1 today

Dalam keseharian kita sering mendengar kata budaya dan busana, atau mungkin yang lebih dikenal dengan fashion dimana ini adalah salah satu bagian dari budaya dewasa ini. Dari waktu ke waktu dalam setiap generasi terjadi perkembangan budaya berbusana. Generasi 90 an akan terheran dengan busana jaman sekarang yang makin hari cenderung makin minim, kalaupun itu makin panjang, bahannya yang makin tipis, dengan kata lain, makin hari kehidupan generasi kita semakin transparan hingga sudah tidak ada pribadi lagi dalam hal berbusana. Ini adalah perkembangan busana yang kalau secara garis besar saya bisa definisikan sebagai Budaya Berbusana.

Ini tidak senada dengan Busana yang Berbudaya, dimana kemelekatan budaya ada pada busana tersebut, semisal busana Ulee Balang dari aceh, Ulos dari sumatera, Paksian dari bangka belitung, dan ada pakaian adat bali, semua jenis busana ini memiliki pakem dan corak dan tata cara pakai tersendiri yang kalau dirubah maka makna filosofis dan nilai – nilai tradisional dan adat leluhur akan berubah, oleh sebab itu maka busana ini lebih dikenal dengan busana atau pakaian adat karena ada kemelekatan adat atau tradisi di dalamnya.

Untuk dipahami bahwa pakaian keseharian kita tidak bisa disatukan dengan pakaian adat. khususnya di bali, pakaian adat bali lebih banyak diperuntukkan untuk upacara keagamaan sebagai salah satu bentuk persembahan ke hadapan Tuhan. Setiap jenis pakaian adat Bali memiliki pakem dan makna filosofis di dalamnya yang kalau ini dirubah maka maknanya menjadi berbeda.

Pakaian adat bali pada umumnya menggunakan konsep Tri Angga yaitu Uttama Angga (Kepala), Madyama Angga (Badan), Kanistama Angga (Pinggul ke bawah). Dalam setiap bagian (kepala, badan atau pinggul kebawah) memiliki makna filosofis nya masing – masing.  Ketiga pakem ini berbeda makna untuk pria ataupun wanita, eksistensi ketiga makna inilah yang dipertahankan oleh masyarakat Bali dalam berbusana.

Pengurangan atau penambahan ataupun modifikasi dari pakaian adat Bali bisa dibilang melanggar pakem dari pakaian tersebut dan sudah keluar dari makna filosofis yang sebenarnya melekat dalam pakaian tersebut.

Saya disini bukan berbicara sebagai anti kemajuan atau anti globalisasi atau anti pluralisasi atau anti – anti yang lainnya, saya disini lebih menekankan kepada kelestarian adat yang merupakan warisan dari leluhur kita semua. Untuk pakaian adat saya lebih tekankan untuk tidak di modifikasi, karena disana ada budaya yang melekat, kalau memang tidak bisa mengikuti budaya tersebut sebaiknya tidak digunakan. Masih banyak jenis pakaian yang lain untuk bisa dimodifikasi dengan tanpa meninggalkan kesan kedaerahan, tapi jangan pernah sekali – sekali merubah atau memodifikasi pakaian adat.

Saya masih ingat di tahun 2005 dimana agnes monica dengan kreatifnya membawakan tarian saman asal aceh tanpa pakem yang seharusnya, ini juga menuai kecaman atau protes dari SAJAK (Seniman Aceh Jabotabek), karena memang pakem adat dan tradisional ini tidak serta merta bisa di rubah, dan kalaupun mau dipentaskan, tetap harus menggunakan pakem yang ada dan  telah di konsepkan oleh leluhur dari segi pakaian maupun gerakan dan lainnya.

Marilah kita bersama – sama menjaga kelestarian budaya tradisional daerah kita masing – masing dengan tanpa merubah pakem – pakem yang ada dalam nilai budaya tersebut. Masih ada banyak tempat kita untuk berkreatifitas tanpa harus melukai atau mengganggu nilai – nilai filosofis budaya atau adat yang berlaku di daerah tersebut.

Ahhh.. nyiup kopi malu ajak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

2 × four =