Bhineka Tunggal Ika, Nilai Persatuan Warisan Leluhur

1,294 total, 2 today

Jika ada yang ingat dengan Garuda Pancasila, pada kakinya tersemat pita yang bertuliskan “Bhineka Tunggal Ika”. Dalam fakta sejarah, kalimat ini diambil dari kita sutasoma karangan Empu Tantular yang merupakan pendeta Budha pada jaman Majapahit. Kalimat asli yang tertera pada kita sutasoma sebenarnya adalah “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya Berbeda – beda tetap satu, Tidak Ada Kebenaran Yang Mendua. Menurut cerita dan Buku Sejarah, kalimat ini (konon) muncul sebagai penghormatan terhadap kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan mayoritas penganut Hindhu Siwa dan sangat menghargai penganut agama lain yang merupakan minoritas. Kata-kata “berbeda – beda tetap satu” merupakan sebuah ungkapan bagaimana agama – agama yang berbeda seperti Siwa dan Buddha bisa bersatu untuk kesejahteraan Majapahit. Di negeri ini, perbedaan adalah keindahan yang menyatukan, karena semua perbedaan (agama) itu berujung pada kebenaran yang tidak berbeda “Tan Hana Dharma Mangrwa”. Sebuah ungkapan toleransi yang pemahamannya hingga kini telah terkikis oleh jaman.

Para Pendiri Bangsa Indonesia sangat memahami sejarah Nusantara dalam membangun karakter Indonesia. Mereka tidak serta merta menelan mentah – mentah setiap ajaran dan nilai – nilai asing termasuk agama, tapi mereka mempelajari, menyerap dan mengadaptasi setiap nilai tersebut kedalam budaya yang mengakar di masyarakat. Agama Siwa dan Buddha telah berakulturasi dan dianut sebagian besar masyarakat Bali sudah sangat berbeda pelaksanaannya dibandingkan dengan tempat kelahirannya di India. Begitu juga semua agama yang berkembang di Indonesia mempunyai karakteristik yang sama. Ada sebuah ciri yang menunjukkan adaptasi sehingga bisa menyatu dengan masyarakat Indonesia, misalnya jika kita melihat perjalanan dua ormas terbesar Islam Indonesia Muhammadiah dan Nahdlatul Ulama (NU), juga kentalnya budaya lokal dalam HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) menunjukkan karakter kuat masyarakat Indonesia. Memahami sejarah dan konteks Bhinneka Tunggal Ika akan membuat kita bisa melihat perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan, bukan sebagai “kesalahan” yang perlu dikembalikan ke ajaran asalnya atau di murnikan.

Muhammad Yamin sejarawan dari Sumatra Barat, Bung Karno tokoh nasionalis dari Jawa, dan tokoh Bali Ida Bagus Sugriwa pertama kali mendiskusikan penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa dalam sidang-sidang BPUPKI di tahun 1945. Dan akhirnya menjadi resmi sebagai semboyan lambang negara RI di tahun 1950 sebagai hasil rancangan Sultan Hamid II berkolaborasi dengan Muhammad Yamin dengan bantuan Ki Hajar Dewantara sebagai Panitia Lambang Negara yang dibantu seniman Basuki Reksobhowo. Garuda Pancasila merupakan hasil sebuah kolabroasi banyak orang. Sultan Hamid menyumbang garis tebal pada perisai sebagai lambang Khatulistiwa dan rantai dari mitologi Dayak. Pohon Beringin adalah sumbangan ide DR. RM Poerbatjaraka; Padi dan Kapas merupakan usulan Ki Hadjar Dewantara, dan M.Yamin menyumbang ide Kepala Banteng. Artinya semua anggota Panitia Lambang Negara punya andil besar dalam merumuskan Lambang Negara RI termasuk semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tokoh-tokoh dari berbagai daerah dan berbagai ideologi itu bersatu menciptakan Lambang Garuda Pancasila. Itulah Indonesia.

Para pendiri bangsa Indonesia adalah orang yang mempelajari berbagai hal dari penjuru dunia, mulai dari buku, sekolah, hingga kebudayaan yang berkembang di seluruh penjuru dunia, namun sangat menghormati sejarah Nusantara sebagai inspirasi terbesar. Makna Bhinneka Tunggal Ika diperluas maknanya untuk mewakili bukan hanya keberagaman agama, tapi suku, bahasa dan semua keberagaman di Indonesia. Bagi Indonesia, keberagaman adalah warisan kekayaan bukan hal yang harus dibuat seragam dan bukan juga menjadi sebuah kesalahan yang perlu dikembalikan ke ajaran awal di tempat kelahiran agama tersebut.

Miris rasanya melihat perkembangan generasi jaman sekarang yang seakan – akan menyalahkan akulturasi dan adaptasi agama dengan budaya lokal dan berusaha keras mengembalikan agama agar sesuai dengan Tempat kelahirannya. Fenomena “Arabisasi” dalam Islam dan “Indianisasi” dalam Hindhu, menurut saya adalah sebuah kegagalan berfikir yang fatal karena bukan hanya menunjukkan kedangkalan wawasan tapi juga menunjukkan pergeseran nilai – nilai keberagaman yang diwariskan oleh tokoh – tokoh pendiri bangsa ini, sebut saja H. Agus Salim, Muhammad Yamin, Bung Hatta dan tentu saja Bung Karno.

Isu – isu fundamentalis yang berkembang di Indonesia kini adalah buah dari kurang pahamnya generasi muda akan sejarah. Kita semua sebaiknya mengingat semboyan yang dikumandangkan oleh Bung Karno pada pidatonya yang terakhir Tanggal 17 Agustus 1966, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat “Jasmerah”, Sebagai pedoman cara berfikir kita sebagai generasi penerus bangsa.

Mengingat dan membaca kembali sejarah berdirinya bangsa ini akan mengenalkan kita pada nilai – nilai dan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia. Melupakan sejarah akan membawa kita pada ketersesatan cara berfikir dan perpecahan. Karena indonesia terdiri dari tidak hanya satu melainkan beragam agama, suku bangsa, ras yang semuanya merupakan keindahan warisan leluhur yang justru memperkaya kita sebagai Bangsa Indonesia.

Ahhhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

five × five =