Beragama dan Beretika

268 total, 1 today

Tidak bisa kita pungkiri kalau masing – masing dari agama memiliki sikap konservatif yang dianut oleh penganutnya. Konservatif sendiri memiliki pengertian sikap mempertahankan tradisi yang sudah ada dan enggan atau cenderung menolak untuk menerima perubahan yang baru. Penganut sikap konservatif ini lebih banyak menentang adanya modernitas. Sikap konservatif banyak mengacu pada tradisi masa lalu. Para penganut sikap konservatif lebih banyak muncul karena kekhawatiran akan rusaknya tradisi dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu jika terjadi perubahan.

Saya memahami konservatif sebagai sikap yang berkenaan dengan tradisi dan budaya, tapi belakangan banyak yang menganggap sikap konservatif ini mengacu pada agama. Menurut saya terjadi sebuah kekeliruan pemahaman antara agama dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini.

Setiap agama memiliki tempat kelahiran, atau daerah asal dimana agama itu diturunkan. Dan setiap daerah asal agama tersebut memiliki sebuah tradisi yang lebih dulu ada. Para penganut awal dari tiap – tiap agama pastinya akan tetap dalam kesehariannya dan hidup dengan tradisi yang mereka miliki, hanya saja, mereka menyempurnakan tradisi dengan agama yang diturunkan di daerah tersebut.

Agama yang diturunkan di daerah Arab, akan mengadopsi tradisi arab sebagai patokan prilaku untuk mengungkap nilai – nilai yang terkandung dalam agama tersebut, begitu juga agama yang terlahir di India, akan mengadopsi tradisi india, dan begitu juga agama yang lain. Secara otomatis, bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan nilai – nilai agama-pun akan menggunakan bahasa setempat dimana agama tersebut dilahirkan. Kalau saat itu sudah ada bahasa internasional seperti bahasa Inggris, bukannya tidak mungkin bahasa yang digunakan oleh tiap – tiap agama adalah bahasa inggris.

Agama dan tradisi bukanlah hal yang sama, mereka adalah dua hal yang berbeda. Agama bersifat universal, lintas tradisi, lintas budaya, tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, sedangkan tradisi, berlakunya pada kelompok tertentu. Kekeliruan pemahaman ini yang menyebabkan banyak kalangan masyarakat kita yang justru terjebak dalam sikap konservatif yang berusaha  untuk mengembalikan nilai – nilai tradisi ke masa lalu, bahkan ada pula yang mencoba mengganti tradisi setempat dengan tradisi yang dibawa dari tempat asal agama tersebut dilahirkan.

Banyak juga yang saya lihat mencoba mengembalikan nilai – nilai tradisi ke masa lalu karena pengaruh cerita – cerita kejayaan di masa lalu. Mereka berpikir dengan mengembalikan nilai tradisi ke masa lalu maka secara otomatis kejayaan masa lalu akan diraih. Pemahaman ini sangat keliru mengingat kompleksitas masalah di masa lalu dengan masa sekarang sudah sangat berbeda. Kompleksitas cara berpikir masyarakat jaman sekarang tidak sesederhana masa lalu, oleh karena itu diperlukan solusi atas permasalah yang tidak sederhana pula.

Sikap konservatif apalagi dibarengi dengan sikap fanatik dalam beragama hanya akan menimbulkan pertentangan di masyarakat. Semua agama memiliki nilai etika dan semua tradisi juga memiliki nilai etika. Hanya saja bahasa yang digunakan untuk menyampaikannya berbeda, tergantung dimana agama dan tradisi itu berkembang. Etika inilah yang bisa menghubungkan kehidupan antar penganut agama yang ada di Indonesia. Agama tanpa etika sama seperti menghilangkan sisi kemanusiaan dari penganut agama tersebut, begitu juga tradisi tanpa etika. Bisa kita bayangkan, tanpa etika, apa jadinya kehidupan masyarakat kita.

Tanpa satu benang merah penghubung antar manusia dalam kehidupan lintas agama dan lintas tradisi di dunia ini, saya rasa sangat sulit untuk kita bisa hidup berdampingan dengan manusia lainnya yang berbeda agama dan berbeda tradisi. Dunia hanya akan semakin sempit, karena ketika kita dipertemukan dengan agama atau tradisi yang berbeda, yang muncul dibenak kita hanyalah pertentangan, kita akan selalu berbicara benar dan salah tanpa pemahaman nilai – nilai dasar dari agama dan tradisi yang kita anut.

Berpegang teguh pada nilai – nilai tradisi dimana kita tinggal adalah sebuah keharusan, tapi kita tidak boleh lupa dengan etika dan sisi kemanusiaan dari agama dan tradisi tersebut. Sebuah agama tanpa etika bukanlah agama, begitu juga dengan tradisi tanpa etika bukanlah sebuah tradisi. Sesungguhnya tujuan adanya agama adalah menyempurnakan tradisi yang memanusiakan manusia.

Ahh… nyiup kopi malu jak roko katih…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

5 × 5 =