Belajar Pancasila dari Pidato Megawati pada Ultah ke 44 PDIP

337 total, 1 today

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ideologi. Saya berpendapat bahwa ideologi bisa disebut juga dengan ide atau gagasan yang mendasari tindakan atau sikap yang diambil oleh seseorang atau sekelompok orang dalam kehidupannya baik yang menyangkut dengan kepentinganya sendiri atau kepentingan kelompoknya.

Pada ulang tahun yang ke 44 PDI Perjuangan, Megawati menyampaikan pidato politiknya yang kalau saya tarik benang merahnya, membahas mengenai ideologi Pancasila dan bahaya akan munculnya Ideologi tertutup yang belakangan marak di negara kita.

Untuk yang belum menyaksikan, silahkan lihat di tautan berikut: https://youtu.be/5bwUZ6NPb0I

Pancasila 1 Juni 1945 adalah ideologi terbuka yang berarti ideologi yang memang telah ada dalam kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat kita, secara sederhana saya bisa katakan kalau Pancasila adalah rangkuman dari seluruh ide yang ada pada masyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Itulah kenapa Pancasila langsung diterima oleh masyarakat Indonesia tanpa melalui proses yang panjang dan tanpa paksaan sedikitpun.

Karena Pancasila merupakan ideologi terbuka, maka sifatnya menerima semua perbedaan yang ada, yang sering kita sebutkan dengan pluralisme atau kebhinekaan. Kita tidak pernah mengenal satu kesatuan SARA, yang kita kenal adalah keberagaman SARA yang harus direkatkan oleh satu kesatuan ideologi untuk bisa diimplementasikan dalam produk konsitusi di negara kita.

Sifat terbuka dari Pancasila tetap memiliki batasan. artinya, Pancasila tidak sepenuhnya terbuka terhadap segala macam pemikiran, tapi hanya terbatas pada pemikiran yang sesuai dengan 5 Sila yang ada pada Pancasila dan semangat bhineka tunggal ika. Oleh karena itu Pancasila tidak boleh kompromi atas rongrongan ideologi lain yang tidak sesuai dengan nilai – nilai Pancasila sebagai jiwa bangsa kita.

5 Sila yang ada pada Pancasila, jika digali lebih dalam lagi bisa diterjemahkan dalam 3 sila yaitu:

sosio-nasionalisme, yang berarti nasionalisme yang nyata pada masyarakat yang berlandaskan pada norma – norma yang berlaku pada masyarakat itu sendiri. Nasionalisme nyata yang dimaksudkan disini berarti nasionalisme tersebut mendarah daging pada setiap tindakan masyarakatnya sehari – hari yang lahir atas dasar kecintaannya pada tanah airnya dan saudara sebangsanya. Wujud dari sosio-nasionalisme atau nasionalisme masyarakat ini adalah nasionalisme dalam politik dan ekonomi yang tujuannya untuk kebebasan politik dan kebebasan ekonomi yang mengantarkan masyarakat Indonesia ke arah masyarakat yang adil dan makmur bersih dari kapitalisme, imprealisme, dan kolonialisme.

sosio-demokrasi, yang timbul dari sosio-nasionalisme yang kalau disederhanakan berarti demokrasi masyarakat yaitu demokrasi politik dan demokrasi ekonomi dalam bentuk sistem ketatanegaraan, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang berlandaskan pada kesejahteraan sosial. Sosio-demokrasi ini yang mewujudkan keadilan sosial dengan dasar musyawarah mufakat yang dilakukan dalam permusyawaratan perwakilan. Permusyawaratan perwakilan yang dimaksud disini bukan lah permusyawaratan satu golongan, melainkan permusyawaratan yang mengantarkan rakyat mencapai kesejahteraan dan kemakmuran, suatu permusyawaratan melalui perwakilan semua untuk semua.

ke-Tuhan-an yang dijelaskan oleh Megawati sebagai pondasi kebangsaan yang berarti demokrasi politik dan demokrasi ekonomi haruslah berlandaskan pada ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban, dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia yang dimaksud adalah tetap memeluk agama kita masing – masing tanpa harus mengadopsi budaya asal dari tiap – tiap agama tersebut, melainkan memasukkan agama sebagai nafas dari budaya kita masing – masing, budaya nusantara. Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

3 sila diatas kalau digali lebih dalam lagi bisa diterjemahkan dalam eka sila, yaitu gotong royong yang berarti berhimpunnya semagat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka:

pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote.

Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Dari penjelasan diatas bisa saya simpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara kita lahir atas dasar kecintaan kita terhadap tanah air dan saudara sebangsa kita yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala aspek politik dan ekonomi. Mengganti Pancasila berarti mengganti dasar negara kita yang juga berarti mengganti segala nilai kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat kita, yang juga berarti mengganti semangat gotong royong untuk kebahagiaan bersama yang selama ini telah hidup dan berkembang dalam masyarakat kita.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

15 − eight =