Belajar Arti kata Anjing dan Babi dari Ahmad Dhani

1,615 total, 4 today

Peristiwa politik yang sekarang sedang ramai yang terjadi di Pilgub Jakarta hingga adanya demo besar – besaran yang terjadi pada tanggal 4 November 2016 kemarin memuat beberapa hal mengenai cara berbahasa dan pemahaman tentang bahasa yang sangat menarik menurut saya.

Dalam berbahasa kita mengenal tujuan atau niat daripada kalimat itu diucapkan. Dalam pergaulan sehari – hari, semakin dekat kita dengan seseorang, maka bahasa yang kita keluarkan menjadi bahasa yang cenderung dianggap agak kasar, tapi tanpa maksud atau niat menghujat maka kata kasar tersebut akan bermakna lain ketika diucapkan.

Kata “anjing” dan “babi” misalnya, ketika dalam pergaulan sehari – hari kedua kata tersebut adalah ungkapan kedekatan kita terhadap sabahat atau teman yang sudah tanpa jarak. Kita bisa saja bilang teman kita “anjing” atau “babi” tanpa ada reaksi negatif terhadap pengucapan kata tersebut. Hal ini menjadi berbeda ketika kata “anjing” atau “babi” tersebut kita ucapkan pada orang yang tidak kita kenal.

Kepada siapapun baik itu sahabat atau teman bahkan kepada orang yang tidak kita kenal, kata “anjing” atau “babi” bisa menjadi sebuah penghinaan terhadap seseorang kalau pengucapannya diiringi dengan penekanan yang agak keras atau teriakan kemarahan.

Bentuk kemarahan yang tertuang dalam berbahasa ada pada tekanan kalimat yang diucapkan atau pada ekspresi dari pengucap kalimat itu sendiri yang mencerminkan kemarahan, semisal mata melotot, atau tanda kemarahan yang saya rasa kita sudah ketahui bersama.

Semua jadi berbeda ketika kita berbahasa pada ruang publik yang memang diperhatikan oleh banyak orang. Apalagi ketika kalimat itu ditunjukkan pada simbol negara seperti seorang Presiden dimana etiket berbahasa yang baik dan benar sangat – sangat dianjurkan, karena penghinaan terhadap simbol negara sama saja dengan menghina negara itu sendiri dan semua ini diatur dalam Undang – Undang.

Mari kita telaah kalimat yang diucapkan oleh Ahmad Dhani ketika berorasi pada tanggal 4 November 2016. Saya potong kalimatnya dibawah ini pada point pentingnya, dimana dua kata “anjing” dan “babi” tadi diucapkan.

Saya sangat sedih sekali dan menangis, mempunyai presiden yang tidak menghargai habaib dan ulama. Ingin saya katakan anjing, tapi tidak boleh. Ingin saya katakan babi, tapi tidak boleh. Ulama – ulama penerus Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam duduk disini, habaib ulama tidak diterima oleh presiden. Ingin saya katakan presidennya anjing, tapi tidak boleh.

Kita bisa lihat dari kalimat yang diucapkan oleh Ahmad Dhani ada kata “anjing” dan “babi” yang kalau kita analisa lebih jauh bisa memiliki makna yang bias.

Kalimat “Ingin saya katakan anjing, tapi tidak boleh. Ingin saya katakan babi, tapi tidak boleh”. Memiliki makna ingin mengatakan tapi seolah – olah tidak mengatakan, atau bisa dikatakan ingin berbuat tapi seolah – olah tidak.

Untuk kita pahami bersama, bahwa berkata itu berbeda dengan berbuat. Kita bisa saja mengeluarkan kalimat “ingin saya pukul kamu, tapi tidak jadi” yang bermakna kita berniat memukul tapi kita urungkan karena tidak boleh, dan ini juga berarti kita tidak jadi memukul atau tidak melakukan tindakan memukul. Berbeda dengan kondisi “ingin saya katakan anjing tapi tidak boleh”, karena berniat atau tidak, dia sudah mangatakan “anjing”. Apapun alasannya, kalimat itu memang sudah dikatakan, yang berarti perbuatan mengatakan “anjing” itu sendiri sudah dilakukan.

Yang paling parah dari kalimat yang diucapkan oleh Ahmad Dhani adalah  “Ingin saya katakan presidennya anjing, tapi tidak boleh”. Mau tidak mau, suka tidak suka dia sudah mengucapkan kalimat yang mengatakan “presidennya anjing”. Ahmad Dhani bisa saja plintar plintir sana sini untuk membenarkan kalimatnya, tapi faktanya dia sudah mengatakan “presidennya anjing”, dan itu keluar langsung dari mulut Ahmad Dhani itu sendiri.

Berkata, berbahasa, dan menulis memang memiliki sudut pandang yang berbeda daripada sebuah tindakan atau perbuatan. Orang bisa saja mengatakan ingin berbuat tapi tidak boleh, yang memiliki makna tidak jadi berbuat, yang juga berarti tidak melakukan perbuatan itu. Sedangkan kalau ingin mengatakan tapi tidak boleh, secara tidak langsung berarti sudah mengatakan. Dalam menulis juga sama, ingin menulis tapi tidak boleh, berarti memang sudah dituliskan.

Kalau kita bahas dari segi niat kalimat itu dikatakan, mungkin terlalu bias, karena saya tidak bisa menganalisa ekspresi muka Ahmad Dhani ketika mengucapkan kalimat tersebut, tapi dari segi intonasi bahasanya, tercermin ada kemarahan di dalamnya, karena penekanan dan teriakan yang cukup keras, bukan intonasi yang datar. Disamping itu, ada kalimat kesedihan atau kekecewaan yang mengiringi sebelum kata “anjing” dan “babi” tadi diucapkan.

Ahmad Dhani bisa saja berkelit dengan bahasa yang menjelaskan ini dan itu, tapi kalimat yang diucapkan memang sudah keluar dari mulutnya dan sekarang sudah dilaporkan, yang berarti harus dipertanggung jawabkan.

Kita semua diajarkan untuk berbahasa semenjak duduk di bangku sekolah dasar, dari sini kita semua belajar untuk berbahasa yang baik dan benar. Setiap orang yang bersekolah mengenal tata bahasa yang baik, jadi kalau orang tersebut tidak bisa bertata bahasa yang baik berarti dia tidak sekolah.

Ahhhhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

 

Nb: saya lampirkan tautan yang menampilkan video orasi Ahmad Dhani ketika demo 4 November 2016

https://youtu.be/ZOW-EsaUYJs
https://youtu.be/-osYo-aID6c

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

eleven − ten =