Bali Itu Gadis Cantik, Sok Jual Mahal, Ada Materi, Langsung Bisa Digagahi

TOTAL : 1,027 ( TODAY : 2)

Semenjak dahulu, Bali sudah terkenal dengan pulau surga, pulau yang menjadi tujuan pariwisata karena keindahan alamnya, keramahan penduduknya, tradisi dan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di dunia. Bahkan baru – baru ini, Bali dinobatkan sebagai salah satu dari 10 pulau terbaik di dunia.

Bali memang indah, dunia mengakui ini. Saking indahnya, hampir semua orang berebut untuk bisa mendapatkan tempat di Bali. Entah itu tempat investasi, tempat tinggal, dan jenis tempat lainnya.

Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan di Bali. Investasi di Bali tergolong sangat mahal. Mulai dari harga property, meskipun tempatnya agak di pinggiran, tetap lebih mahal dari daerah lainnya di indonesia. Harga – harga barang juga cenderung lebih mahal dibanding daerah lain. Ini wajar terjadi, kalau diibaratkan sebagai gadis, Bali ini gadis yang cantik, dan gadis yang cantik, wajar kalau jual mahal, karena banyak yang memperebutkan.

Ada yang kurang dari sosok Bali sebagai gadis yang cantik. Karena jual mahal, maka ketika ada materi, Bali sudah bebas untuk digagahi, bahkan untuk diperkosa sekalipun. Sebagian besar daerah di Bali memang sedang tergerus kecantikannya karena digagahi secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan tradisi dan budaya yang menjadi akar dari kecantikan itu sendiri. Pemahaman kebanyakan pelaku industri pariwisata di Bali, tradisi dan budaya itu hanyalah aksesoris yang bisa melengkapi barang dagangannya semata.

Kalau ditelaah secara logika, Bali tidak memiliki kelebihan dari pulau – pulau lain yang ada di Indonesia. Bahkan Bali masih kalah jauh dengan Aceh, bahkan Jogjakarta sekalipun. Tolak ukurnya, kedua daerah itu adalah daerah Istimewa, sedangkan Bali sampai sekarang masih memperjuangkan keistimewaannya. Jogjakarta istimewa karena budaya keraton dan kesultanan yang masih tegak hingga kini. Aceh istimewa karena serambi mekah dan syariat islam yang pelan – pelan berusaha untuk tegak.

Saya sempat berfikir, apa sih yang dimiliki Bali hingga harus menjadi daerah istimewa?. Dinilai dari sisi tradisi, hampir semua daerah di Indonesia memiliki tradisi yang unik. Dari segi alam, hampir semua daerah juga memiliki alam yang cantik dan indah. Lalu apa kelebihan Bali dibandingkan dengan daerah lain?

Satu hal yang dimiliki Bali hingga bisa istimewa dibandingkan daerah yang lain, yaitu Budaya Hindu Bali yang merupakan integrasi agama dan budaya kedalam perilaku setiap masyarakatnya. Budaya Hindu Bali inilah yang membuat Bali terlihat cantik. Dan ini sudah tergerus sedikit demi sedikit karena prilaku masyarakatnya yang lebih mengutamakan materi dibandingkan tradisi itu sendiri. Ada banyak contoh yang bisa saya berikan, tapi satu contoh yang paling terlihat jelas, dan terjadi saat ini adalah reklamasi teluk benoa.

Dalam sudut pandang saya, perjuangan yang menolak reklamasi adalah perjuangan untuk mempertahankan kecantikan Bali itu sendiri, karena ada nafas Budaya Hindu Bali dipertahankan disana. Tercermin dalam Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita PHDI, yang menetapkan Teluk Benoa sebagai kawasan suci. Kejadian ini adalah pembuktian kekuatan antara masyarakat yang berjuang untuk Budaya Hindu Bali, dengan masyarakat yang mengutamakan materi. Dua kekuatan yang sekarang memang menjadi dilema masyarakat Bali, terutama kaum muda, di tengah arus globalisasi yang semakin gencar.

Kemenangan masyarakat yang menolak reklamasi akan membuktikan bahwa, pembangunan pariwisata di Bali memang harus bernafaskan Budaya Hindu Bali, dan Budaya Hindu Bali memang masih tegak dan masih merasuki nafas setiap masyarakat. Dengan kemenangan ini pula Bali telah membuktikan keistimewaannya sebagi satu – satunya daerah di dunia yang mampu mengintegrasikan agama Hindu dan Budaya Bali kedalam setiap masyarakatnya, dan masih tegak setelah ratusan tahun lamanya.

Kemenangan masyarakat yang menyetujui reklamasi akan membuktikan bahwa, materi memang lebih dominan hidup dalam nafas setiap masyarakat Bali. Sekaligus juga membuktikan bahwa Bali memang tidak ada istimewanya dibandingkan dengan daerah lain, karena Budaya Hindu Bali itu sendiri sudah tergerus oleh budaya materialistis, dimana Keputusan Sabha Pandita PHDI pun sudah tidak diindahkan lagi atas nama pembangunan pariwisata.

Aset utama Bali adalah industri pariwisata itu sendiri yang hingga kini menyumbang devisa sekitar 47 Trilyun per tahun. Mungkin banyak yang belum tahu, kalau Bali hanya mendapatkan sekitar 800 milyar dana perimbangan dari pusat, ini tidak termasuk proyek infrastruktur melalui Kementrian PU.

Undang – Undang No 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Menyebutkan, bagi hasil antara pemerintah pusat dan daerah hanya meliputi sumber daya alam seperti kehutanan, pertambangan umum, pertambangan minyak bumi, dan gas bumi. Sektor kepariwisataan tidak termasuk dana bagi hasil. Dan ironinya, Bali adalah satu provinsi yang tidak memiliki sumber daya alam, tapi sumbangan devisanya dari sektor pariwisata sangat tinggi.

Bali memang sedang dituntut untuk membuktikan keistimewaannya, untuk bisa mendapatkan hak yang seimbang atas hasil pariwisatanya oleh pemerintah pusat. Pembuktian keistimewaan ini tidak akan pernah bisa lepas dari peranan setiap orang dari masyarakat Bali itu sendiri. Bali hanya bisa hidup dari pariwisata, karena Bali tidak memiliki sumber daya alam. Akankah kita korbankan Budaya Hindu Bali itu demi Pembangunan Pariwisata? Mungkin hanya masyarakat Bali yang bisa menjawab ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :