Bakal Cagub Bali Minim Percaya Diri

607 total, 1 today

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali akan berlangsung 2018 nanti, tapi keriuhan demi keriuhan sudah berlangsung di kalangan pendukung para bakal Cagub. Mulai dari saling tumpuk baliho, hingga saling tebar pesona di grup – grup facebook. Lihat saja grup – grup facebook yang menggunakan nama Bali, ada banyak gambar dan status dukungan yang diberikan oleh para pendukung, termasuk komentar oleh pendukung tandingan.

Saya melihat setidaknya ada 3 nama yang cukup kuat untuk menjadi bakal Cagub nantinya, yaitu Rai Mantra, Sudikerta dan Koster. Ketiganya menurut saya yang paling potensial dan paling kelihatan di permukaan. Selain karena perhitungan kapabilitas, juga karena perhitungan kemungkinan dukungan dari partai. Selain dari ketiganya saya rasa hanya muncul sebagai penggembira saja.

Tapi ada satu catatan yang cukup mengusik saya. Ketiganya terlihat seperti bakal Cagub yang minim percaya diri. Lihat saja keriuhan pemberitaan tentang perebutan rekomendasi oleh PDIP yang sekarang tengah di perebutkan oleh setidaknya oleh dua bakal Cagub. Satu lagi, ada bakal Cagub yang tiba – tiba menolak reklamasi yang notabene setelah 4 tahun aksi penolakan, dia minim bicara tentang penolakan reklamasi.

Surat rekomendasi dari PDIP Bali mungkin berperan, tapi bukanlah penentu kemenangan. Kita bisa lihat dari Pilgub lalu, dimana Mangku Pastika bisa menang dari Puspayoga yang notabene didukung penuh oleh PDIP. Sebagai partai penguasa di tingkat nasional, PDIP banyak menuai kekalahan pada Pilkada serentak 2017 kemarin. Setidaknya ada 44 calon yang diusungnya gagal menjadi pemenang, salah satunya adalah Ahok di Jakarta, dan Rano Karno di Banten.

Catatan penting PDIP di Bali ada 3 menurut saya, yaitu keluarnya Sukrawan dan maju melalui jalur independen di Buleleng,  kemenangan Mas Sumantri di Karangasem yang notabene adalah kader yang dipecat, dan ngototnya Adi Wiryatama yang kemudian disusul oleh Eka Wiryastuti untuk maju menyaingi Koster. Ketiga peristiwa itu menyiratkan ada sesuatu yang tidak sinkron di tubuh PDIP Bali. Entah karena kepemimpinan dari ketuanya, atau karena hal lainnya.

PDIP harus berhitung matang untuk Pilgub Bali, terlebih lagi, Pilgub Bali kali ini memunculkan orang baru, tidak ada incumbent. Kalaupun Sudikerta dikatakan sebagai incumbent, dia bukanlah incumbent sepenuhnya, karena sebelumnya dia menjabat sebagai Wakil Gubernur, bukan Gubernur. Karena perhitungan inilah saya rasa sebaiknya rekomendasi ini tidak ditunggu.

Cobalah sekali – sekali bakal Cagub unjuk gigi untuk menarik simpati publik. Semisal dengan berbicara lantang tentang masalah pendidikan yang tak kunjung ada solusinya. Tawarkan solusi yang bisa dijalankan untuk ketimpangan jumlah siswa antara satu sekolah dan lainnya yang terjadi hampir di seluruh Bali. Itu baru satu contoh isu yang ada di Bali. Belum isu yang lain seperti: banjir yang terjadi tiap musih hujan, angkutan online, dan lain sebagainya.

Hingga saat ini, tidak ada satupun bakal Cagub yang mencoba menarik simpati publik dengan keunggulan diri mereka. Kesemuanya hanya ‘main mata’ ke partai politik. Sedemikian pesimiskah mereka dengan suara rakyat hingga harus berebut partai?

Sebagai masyarakat umum, yang saya lihat saat ini hanyalah bakal Cagub yang hanya menawarkan figur, bukan yang menawarkan solusi. Ini mirip dengan beli kucing dalam karung, kita hanya bisa mendengar suaranya saja. Padahal keunggulan kucing dinilai dari bulunya yang bisa kita lihat. Apa yang mereka bawakan selain nama? Adakah tawaran yang mereka berikan sebagai solusi untuk masalah di Bali?

Kalaupun kita menilai dari track record, memangnya ada dari bakal Cagub tersebut yang pernah menjabat sebagai Gubernur?. Birokrasi Kabupaten/Kota tentu beda dengan birokrasi Provinsi, birokrasi anggota DPR juga sangat beda dengan birokrasi Pemerintahan, apalagi kalau kita bicara masalah Wakil dengan Gubernurnya, sangat beda. Track record masing belum bisa diukur dengan perbandingan yang memadai.

Belum lagi semua mendadak ‘Tolak Reklamasi’, yang justru memperlihatkan sisi lemah masing – masing. Seolah mereka tidak memiliki ‘barang dagangan’ lain selain mendompleng apa yang sudah populer.

Saran saya buat bakal Cagub, cobalah untuk turun ke masyarakat bukan hanya untuk kampanye atau hura – hura dan bagi – bagi kostum. Cobalah untuk bertanya dan mendengarkan keluhan yang ada di masyarakat dan pikirkan solusinya, setelah memiliki solusi, susunlah satu program untuk ditawarkan. Masyarakat bisa menilai kok mana yang mau bekerja dan mana yang hanya mengejar jabatan. Mana yang mengerti permasalahan, dan mana yang hanya jual retorika.

JIka bakal Cagub memiliki sikap seperti ini, saya rasa tanpa partai-pun, atau dengan dukungan minim partai-pun masyarakat akan tergerak menjadi relawan untuk mendukung sepenuhnya. Ingatlah, bahwa dalam demokrasi itu, kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan Parpol.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

11 COMMENTS

  1. Gmana mau turun ke masyarakat pak..rekomendasi belum tentu turun…akan menarik jika nanti eetya novanto lengser dari ketum Golkar dan Puspayoga di reshuffle oleh Jokowi…gmana analisanya kira2 pak bungleon?

    • mih, masih juga ngomongin rekomendasi ya pak. kenapa harus menunggu rekomendasi pak untuk bertemu masyarakat? lagipula, sekarang-pun sebelum rekomendasi itu ada, udah ramai tuh pak yang berkunjung wara – wiri pakai seragam.

    • Politik itu pragmatis pak… Rekomendasi itu penting bagi mereka…kalo mau buat program dah dpt rekomen..sewa aja tenaga ahli pak..kalau boleh tahu pak bungleon ini identitas aslinya siapa ya..kok pake alias…pake pp wajah bapak aja kan ganteng

    • statement yang seperti ini yang membuat politik itu justru hanya sebagai ajang jual figur. seolah – olah nggak ada jalan lain selain menjadi pragmatis.

  2. Menurut kaca mata sy pribadi ke 3 elit politik itu satupun nggak masuk utk jadi Gubernur.

    Yg paling menonjol Rai Mantra .

    Selama ini menjabat jd wali kota apa gebrakan yg sdh ada di kodya ?

    Semuanya datar – datar bahkan calon yg lain sgt minus dlm hal ke pemimpinan

    Sy belum bisa menilai ke 3 tokoh ini bisa merubah bali ke arah yg lbh baik transparan bahkan bersih dr korupsi .

    Bali sgt krisis calon pemimpin yg mumpuni

    Kebanyakan politikus hanya mampu main jiplak dan tidak ada misi ngayah secara tulus iklass .

    Ingat pemimpin yg banyak menghabiskan duit sebelum menjabat sudah pasti akan korup
    Utk balik modal .

    Sebab di politik tidak ada mkn siang gratis blii….

    • nggih pak, yakti nike. tapi mau tidak mau di Bali harus ada Gubernur yang dipilih dengan prosedur yang ada. Diantara yang terburuk-pun kita harus memilih yang terbaik.

    • Apa yg pak paparkan diatas idealnya memang spt itu. Tapi kita bukan Amrik disebrang sana, sy melihat justru masrarakat kita (Bali) kecerdasan politiknya masih rendah untuk berdemmokrasi, masih bersifat pragmatis situasional , bahkan banyak klp masyarakat spt banjar, dadia dll mentenderkan suaranya kpd calon cagub/wagug. Ini artinya kompetensi, integritas,mental bahkan moralpun bukan menjadi kreteria para calon. Modal yg paling utama skrng ini adl finansial (uang), sy dengar rekomendasipun para calon mrk hrs bayar thd sang ketum partai. Sudah dpt dipastikan pemimpin nnt yg lahir adl pemimpin abal2 gak dapat diandalkan, gitu aja dulu Bli

    • yakti nike pak. tapi nggak bisa didiamkan juga. paling nggak kita bersuara dari yang kita bisa. dari tulisan, dari cerita di warung kopi, dari diskusi, dari banyak nike jalannya. kenten nike kira – kira. paling nggak masyarakat bisa sedikit demi sedikit sadar akan kondisi perpolitikan daerahnya masing – masing.

LEAVE A REPLY

5 × five =