Alih Fungsi Lahan di Bali Karena Petani Tidak Cukup Hanya Makan Nasi

TOTAL : 224 ( TODAY : 1)

Tingginya jumlah alih fungsi lahan di Bali sebenarnya bukan fenomena baru, ini adalah fenomena berkelanjutan. Saya masih teringat beberapa tahun yang lalu disaat mulainya perumahan masuk desa, banyak orang kaya baru (OKB) dari desa yang sehari – harinya hanya cukup buat makan dan ngopi di warung, tiba – tiba berubah mentereng dengan kemana – mana mengendarai mobil baru. Penjual dan perantara yang terlibat dalam alih fungsi lahan ini memiliki keuntungan yang sama, bahkan kadang perantara atau makelar penjual tanah menikmati keuntungan yang lebih daripada penjualnya.

Dari beberapa orang yang saya kenal ada yang memang tertarik oleh gaya hidup mewah yang ditawarkan oleh hasil penjualan tanah. Dalam pandangan mereka, tidak ada cara lain untuk menikmati manisnya hidup ketika dipanggil “bos” oleh orang sekitarnya selain dengan menjual tanah. Hasil ratusan juta bahkan milyaran yang singkat tanpa perlu susah payah menabung dan bekerja.

Tentu tidak semua orang berpikiran seperti ini. beberapa orang yang saya kenal sebenarnya tidak tertarik untuk menjual lahan yang mereka miliki, mereka masih tetap dalam pola pikir tradisional dengan segala ketakutannya jika menjual tanah warisan. Bahkan ada yang cerita kalau tidak mungkin orang akan bisa hidup bahagia kalau sudah menjual tanah warisan, ini adalah sebuah kutukan bagi mereka karena dianggap tidak bisa menjaga warisan leluhur.

Di desa tempat saya tinggal, minat penduduknya untuk bertani sangat tinggi, bahkan 80% masyarakatnya masih bertani hingga saat ini. Anak – anak muda disini juga masih mengandalkan hidup dari sektor pertanian. Semua ini diluar dari yang di dengung – dengungkan banyak orang bahwa minat anak muda untuk bertani sangat rendah, di tempat saya justru masih banyak yang bertani. Bahkan disini Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) masih berjalan baik dan masih dalam struktur pengurus yang baik.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau petani tidak menjadi pekerjaan yang populer sekarang ini karena hidup bertani di masa sekarang sangat susah. Orang lebih baik bekerja di sektor pariwisata atau yang lainnya yang paling tidak bisa menghasilkan lebih banyak tiap bulannya daripada jadi petani.

Secara hitungan kasarnya, tanah dengan luas 10-15 are hanya bisa mengasilkan 1,5 – 2 juta per panen yang kalau tanamannya padi, hitungan panennya 3-4 bulan sekali. Artinya, tanah 10 are hanya bisa menghasilkan 500 ribu per bulan. Penghasilan ini sangat kecil dibandingkan jika bekerja di hotel atau bahkan bekerja dimanapun di Bali yang digaji sesuai UMK. Ditambah lagi dengan kendala bibit, kendala pupuk, kendala cuaca, dan kendala – kendala lainnya. Petani senior-pun sampai sekarang masih belum bisa memecahkan semua kendala – kendala ini. mereka masih dengan prilaku yang sama, seolah tidak ada inovasi sama sekali dan menyerahkan semuanya pada nasib.

Satu catatan saya ketika berbicara dengan salah seorang ketua Gapoktan adalah, sektor pertanian sudah bukan prioritas lagi. Jarang ada perhatian terhadap petani dari pemerintah daerah, kalaupun ada perhatian, hanya perhatian seadanya saja, tanpa ada solusi yang pasti atas masalah – masalah yang dihadapi oleh petani.

Pernah ada beberapa kali penyuluhan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian setempat, ada yang memberikan penyuluhan tentang bibit terbaik, pupuk terbaik, pestisida terbaik, dan semua yang terbaik, tapi ketika dijalankan, tidak ada penyuluhan lanjutan dan gagal. Dari sini petani tradisional kembali ke cara lama yang mereka tahu tanpa mau mencoba lagi, karena takut merugi.

Ketika musim tanam, bibit padi mulai langka. Beberapa sudah mencoba menelusuri ke Dinas Pertanian setempat, jawaban yang diterima adalah jalur distribusi yang terhambat karena cuaca dan yang sejenisnya. Begitupun halnya dengan pupuk bersubsidi dan kebutuhan petani lainnya. Beberapa dari petani tersebut ada yang bisik – bisik kalau ada yang menimbun atau istilah lainnya ada yang bermain diantara jalur distribusi tersebut yang menyebabkan susahnya mendapatkan bibit ataupun pupuk.

Masalah – masalah seperti ini kalau dihitung dengan hitungan bisnis, menyebabkan waktu produksi jadi lebih lama, sedangkan kebutuhan biaya hidup petani pas – pasan hingga musim panen berikutnya. Diantara waktu produksi dan musim panen yang terbilang terhambat inilah muncul masalah hutang piutang karena tuntutan hidup si petani sendiri. Ada yang berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anak – anaknya, biaya ini itu dan lain sebagainya. Kalau saya sederhanakan, hidup bertani sekarang ini hasilnya pas – pasan dan kebanyakan terlilit hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Realita yang terjadi di lapangan adalah, kebutuhan petani kita sekarang ini tidak hanya cukup dengan makan nasi saja, mereka punya anak – anak untuk disekolahkan. Untuk sekolah, anak – anak mereka memerlukan transportasi berupa minimal motor, sekarang ini sudah tidak ada angkutan desa yang bisa mengantarkan anak – anak sekolah lagi. Minimal satu rumah ada satu motor. Mencicil motor dan membayar sekolah anak dengan hasil pertanian sekarang ini sungguh mustahil, apalagi untuk petani yang lahannya terbatas. Jalan singkat yang bisa mereka tempuh untuk memenuhi kebutuhan itu hanyalah dengan menjual lahan mereka dan mencoba menjadi petani penggarap.

Solusi dari masalah alih fungsi lahan pertanian sekarang ini bukan hanya retorika atau peringatan dan yang sejenisnya, solusinya ada pada jalur distribusi bahan pertanian seperti bibit, pupuk, obat – obatan, kepada petani, dan jalur distribusi produk pertanian ke pasar. Banyak yang masih belum melihat akar masalah ini. Kehidupan petani akan lebih baik kalau jalur distribusi bibit dan pupuk lancar, waktu produksi singkat, dan harga jual produk pertanian stabil. Itu akar masalah sebenarnya.

Yang ada sekarang ini, jalur distribusi bibit dan pupuk terhambat, penyaluran produk pertanian ditengahi oleh tengkulak. Bagaimana petani bisa sejahtera?

Satu kisah yang saya rasa bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan masalah ini adalah cerita bagaimana petani cabai di Magelang – Jawa Tengah yang bernama Tunov Mondro Atmodjo mengurai akar masalah dan menemukan cara untuk memotong kendala dari penyediaan bibit hingga penyaluran produksi cabai. Sederhananya, akar masalahnya di uraikan dan dicarikan solusinya, dari sinilah hal – hal seperti alih fungsi lahan bisa dicegah.

Kalau petani sejahtera, bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan mampu menyekolahkan anak – anaknya dari hasil pertanian, saya rasa alih fungsi lahan akan drastis berkurang. Orang – orang yang saya temui lebih banyak yang tertarik untuk bertani daripada bekerja pada tempat lain, karena menurut mereka, petani itu adalah “bos” untuk diri mereka sendiri, tanpa ada orang lain yang memerintah dan ngatur – ngatur.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :