Aliansi atau Aliensi, Berfikirlah dengan cerdas dan tidak mudah dibodohi

1,836 total, 1 today

Saya sebenarnya sudah sangat malas membahas perihal pakaian, karena sudah pernah saya tuliskan sebelumnya. Tapi berhubung masih ada yang berisik dan membawa nama Hindu dan masih ribut soal pakaian, saya akan bahas lagi disini.

Sebuah aliansi yang membawa nama Hindu berdemonstrasi menolak kewajiban pakaian ke-arab – araban yang tidak sesuai dengan budaya Bali. Saya mendapatkan foto demonstrasinya dari Social Media dan terdapat kalimat yang menyertainya.

Aksi Aliansi Hindu Muda Indonesia dan sejunlnlah komponen pemuda adat di depan pusat perbelanjaan dikawasan Kuta terkait pengaduan masyarakat atas himbauan menggunakan pakaian agama tertentu pada karyawan yg beragama Hindu disebuah toko batik dikawasan shopping mall tersebut dalam rangka Ramadhan. Astungkara sdh diselesaikan dgn baik oleh Polsek Kuta dan unsur terkait. Barang bukti sdh ditahan oleh polri dan pihak swasta berjanji u tidak mengulangi. Syukurlah selesai dgn mufakat dan tdk anarkis. Mari hargai adat budaya Bali yg dijiwai nilai agama Hindu.

 Yang berdemonstrasi tidak lebih dari 15 orang, dan kalimat yang mengiringi adalah Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Sejumlah Komponen Pemuda Adat.

Dalam kamus besar bahasa indonesia aliansi itu berarti:
aliansi/ali·an·si/ n Pol ikatan antara dua negara atau lebih dengan tujuan politik;

 Kata aliansi disini terdengar sangat menyeramkan, seolah – olah ada ribuan orang. Tapi yang berdemonstrasi kok hanya 15an orang? Apalagi membawa nama Hindu Muda Indonesia yang setahu saya ada jutaan jumlahnya di Indonesia.

Dari penjelasan diatas sudah sangat jelas kalau kata – kata Aliansi Hindu Muda Indonesia adalah nama ormas dan tidak mewakili Agama Hindu secara keseluruhan. Saya tekankan kalau Aliansi Hindu Muda adalah sebuah ormas dan hanya mewakili ormas tersebut, tidak mewakili Umat Hindu apalagi Pemuda Hindu secara Keseluruhan.

Sedangkan kata – kata “Sejumlah Komponen Pemuda Adat” adalah kata – kata hiperbolic atau melebih – lebihkan. Pemuda adat berafiliasi dengan Ormas itu sepertinya hal yang sudah jauh dari layak untuk dibahas karena ranahnya sudah sangat berbeda. Saya rasa sudah tidak perlu lagi saya bahas disini.

Yang mau saya tekankan adalah, demonstrasi tersebut dilakukan oleh Ormas dengan tujuan tertentu dan keuntungan tertentu dan bermuatan politik. Jadi kalau setelah membaca ini dan masih mengatakan kalau Ormas tersebut mewakili Pemuda Hindu atau mewakili Bali, itu hak masing – masing, karena saya sebagai Pemuda Hindu dan Orang Bali tidak merasa terwakili oleh Ormas Tersebut.

Perayaan Hari Keagamaan dan Bentuk Penghormatan oleh Perusahaan

Saya pernah tinggal beberapa lama di Singapura, Thailand, dan beberapa kota besar di Indonesia. Belakangan saya menemukan Bali sebagai tempat yang paling berisik mengenai masalah pakaian. Saya ceritakan sedikit pengalaman saya mengenai pakaian ini.

Saya pernah bekerja di sebuah kantor yang karyawannya sangat majemuk. Kebetulan di kantor ini ada divisi Marketing Komunikasi yang membidangi visualisasi dan branding kantor di hadapan publik. Satu keputusan yang saya rasa memang pantas ditiru untuk semua kantor di indonesia adalah penghormatan terhadap setiap hari besar keagamaan dan hari besar nasional. Karena hari raya Agama Hindu banyak, dan Hari Raya Nyepi memang semua kantor libur maka dipilihlah Hari Raya Galungan untuk penghormatan terhadap Agama Hindhu.

Saya sertakan sebuah gambar untuk visualisasi agar lebih jelas.

fanatisme-berbusana

Gambar no 1 adalah busana yang digunakan oleh umat selain Muslim untuk turut serta merayakan Ramadhan dan hari yang diambil adalah Hari Jumat pertama dari mulainya berpuasa. Untuk yang berhijab masih tetap mengenakan hijabnya.

Gambar no 2 dan 3 adalah yang dikenakan ketika merayakan Hari Raya Galungan.
Gambar no 4 digunakan ketika merayakan Imlek
Gambar no 5 digunakan ketika merayakan Hari Kartini

Untuk peringatan Hari Natal busananya bebas, hanya mengenakan hiasan Topi Santa Claus.
Untuk peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, hanya diwajibkan mengunakan atribut Merah Putih.

Untuk yang berhijab masih tetap mengenakan hijabnya dan justru lebih kreatif karena mereka harus memadu padankan hijab dengan pakaiannya.

Beberapa tahun bekerja disana, saya tidak mendengar keluhan ataupun nada – nada miring, dan saya merasakan kemajemukan justru menjadi sangat indah. Dampak positif dari Marketing Komunikasi jenis ini adalah kenyamanan semua elemen masyarakat untuk datang dan merasa diterima di perusahaan itu. Setiap hari keagamaan justru dirasakan bersama tanpa membeda – bedakan Agama apapun yang dianut. Disanalah saya mengerti arti toleransi yang sebenarnya. Saya masih tetap menjadi Hindu meskipun saya turut merayakan Hari Raya Agama lain. Tidak ada yang berubah dari diri saya hanya karena pakaian.

Secara garis besar yang saya lihat dari semua gambar itu adalah gambaran Nusantara yang sebenarnya, bukan gambaran Ke-Arab – Araban. Silahkan ditelaah lagi lebih dalam.

Yang mau saya sampaikan adalah, janganlah terlalu naif dan norak menilai sesuatu hanya dari sebatas pakaian. Kita memiliki pakaian Nusantara yang tidak melanggar aturan kesopanan dan memiliki nuansa yang berbeda untuk masing – masing Agama. Marilah kita lebih cerdas memilah yang baik dan tidak mudah terprovokasi oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan politik tertentu, dan marilah kita bersama – sama berkembang dalam kemajemukan dan keragaman Indonesia, Untuk Indonesia yang lebih baik.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

eleven − 6 =