Ahok Untuk Bali (Provokasi Jonru dan Cyber Kampred)

1,004 total, 3 today

Aneh rasanya melihat ramainya postingan orang yang mendorong Ahok untuk menjadi calon Gubernur Bali pada Pilkada tahun 2018. Tambah ramai dengan narasi yang dibentuk oleh media nggak jelas kalau Ahok ditolak di Bali dan warga Bali seolah – olah anti Bhineka atau Intoleran karena menolak Ahok untuk jadi calon Gubernur Bali. Framing yang sungguh kampred bin ajaib.

Selidik punya selidik, muaranya ternyata ada di Jonru si tukang pelintir. Saya jadi mulai paham narasi ini mau dibawa kemana oleh Jonru dan cyber kampred-nya.

Belakangan ini, beberapa facebook grup Bali mendapatkan banyak sekali postingan bernada yang sama yang dilakukan oleh akun abal – abal. Postingan tersebut seolah – olah menyodorkan Ahok untuk calon Gubernur Bali. Jelas saja timses beberapa Cagub yang sudah lebih dulu menggadang calonnya masing – masing menyatakan penolakan. Dan ini tidak mewakili masyarakat Bali pada umumnya, karena hanya segelintir orang yang tergabung dalam grup facebook tersebut.

Beberapa grup facebook yang memiliki nama Bali memang sering menjadi ajang para pengusung Cagub untuk mencari dukungan di kalangan pengguna. Bahkan sering juga menjadi ajang untuk provokasi terhadap pengusung Cagub lain. Di Bali sendiri semenjak tahun 2016 sudah memunculkan beberapa nama yang akan diusung menjadi Cagub pada Pilkada 2018 nanti, diantarnya Koster, Sudikerta, Rai Mantra dan lain lain. Terang saja para pendukung Cagub tersebut menyatakan penolakan dengan berbagai alasan. Komentar penolakan inilah yang dijadikan narasi oleh si Jonru dan cyber kampred-nya untuk membentuk opini seolah – olah warga Bali menolak.

Tapi apakah penolakan dari akun facebook di grup tersebut bisa dinyatakan sebagai penolakan warga Bali? bukan Jonru namanya kalau bukan memprovokasi dengan salah logikanya. Apalagi kalau sudah mengerahkan cyber kampred-nya.  Tujuannya tiada lain dan tiada bukan, seperti sebelum – sebelumnya, Jonru hanyalah seorang provokator, yang bertujuan memprovokasi, tidak lebih.

Bali tidak pernah mempermasalahkan apapun yang kalian masalahkan di Jakarta, apalagi sampai membawa agama untuk tunggangan politik. Belum pernah dalam sejarahnya di Bali ada politik yang menggunakan agama sebagai bahan kampanye. Kecuali memang dibawa oleh orang – orang yang sejenis sama kalian, dan itupun sudah mengalami penolakan semenjak kemunculannya di Bali.

Kalaupun nanti partai politik mengusung Cagub sipapun yang disodorkan untuk Bali, saya rasa Jonru dan cyber kampred-nya tidak perlu khawatir, kami warga Bali akan berpolitik dengan sehat, saya rasa kalian harus mengamati itu untuk menjadi contoh betapa kewarasan masih ada di Indonesia, terutama di Bali.

Kami warga Bali masih lebih beradab dan memiliki akal sehat daripada kalian yang hanya ahhh… sudahlah… Kami telah terbiasa hidup berdampingan dengan semua jenis manusia di Bali, kami telah terbiasa dengan segala perbedaan yang ada di Bali, jadi provokasi yang kalian bawa sepertinya harus kalian bawa ke tempat lain.

Terakhir, Jonru dan cyber kampred-nya memang bertugas sebagai provokator yang hanya akan menyebarkan provokasi, tidak akan jauh – jauh dari hanya sekedar provokasi. Kenapa kemudian Bali yang mejadi sasaran provokasi, kita bahas nanti.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :
  • Andaikan Pak Ahok, bersedia menjadi pelayan madyarakat Bali, alangkah senangnya hati ini..

  • Tapi sya yakin ahok jg akan kalah di bali…

    • Bukan masalah kalah dan menangnya, bukan juga masalah Ahoknya, masalah orang orang yang menebar provokasi dan isu agama dan dibenturkan ke Bali.

  • bliMade Bungloen yg baik ..
    respon cepat para pemain media sosial tanpa pikir, apakah ini cerminan dr gagalnya pendidikan negeri kita ya ?
    semakin besar jumlah penduduk tidak berbanding lurus dg kemampuan berpikir …

    ah .. sudahlah

    ujung2nya kita tau pasti siapa yg akan disalahin ..

    • analisisnya bukan lagi kepada kegagalan pendidikan pak, analisisnya mengarah kepada kebebasan mengungkapkan pendapat. sekarang ini di medsos setiap orang punya hak berpendapat dan mengeluarkan pendapat. hanya nilai pendapatnya yang perlu diperhatikan, ketika mengarah pada provokasi, ya kita lawan, tapi kalau mengarah kepada hal – hal yang baik, ya tidak apa – apa. kira – kira seperti ini.

    • gitu ya Bli ..
      nah itu .., ‘nilai pendapat’ berbanding lurus dg ‘kemampuan berpikir’ ..

      suksma bli atas pencerahannya