Ahok – Risma, Antara Jakarta dan Surabaya Lewat Trotoar

413 total, 2 today

Ahok memang sebuah fenomena yang sangat menarik. ketika dibahas dari sudut manapun, namanya bisa membuat setiap isu yang berhembus terhadapnya mencuat ke permukaan, entah itu positif atau negatif. Sebut saja berita tidak penting, sekelas trotoar yang kemudian dibahas oleh portal sekelas Tempo dan yang lainnya. Dari sudut pandang saya menjadi ramai karena ada ramuan berbau persaingan ketika diracik oleh Tempo. Entah memang dimaksudkan untuk menyandingkan kedua pemimpin dan membandingkan kinerjanya, atau ada maksud lain di dalamnya.

Tapi begini, ketika ada isu persaingan, apalagi dalam sebuah pertarungan sekelas pilkada Jakarta, pasti akan ada reaksi dari masing – masing pemimpin yang disandingkan. Sekarang kembali kepada kemampuan masing – masing pemimpin untuk mencium bau provokasi di dalamnya. Kalau reaksinya berlebihan, berarti salah satu atau kedua pemimpin tersebut memang telah terkena provokasi media.

Pemberitaan trotoar yang hanya berita biasa bisa membuat seorang sekelas Risma mengadakan konfrensi pers menurut saya adalah reaksi yang berlebihan. Ini juga sekaligus membuktikan kalau media kita memang berhasil membuat provokasi dan membuat suasana tambah gaduh. Kalau sekarang berita trotoar yang membuat gaduh, mungkin nanti akan ada berita pohon cemara di trotoar atau bak sampah yang tidak sama jumlah nya yang akan membuat gaduh. Pertanyaannya, apa pantas sebuah media menyebarkan provokasi semacam ini?

Media sebenarnya adalah sumber informasi, atau sumber berita yang digunakan oleh masyarakat untuk mencerahkan pengetahuan. Hingga saat ini, media – media mainstream adalah salah satu sumber terpercaya untuk pencarian informasi yang digunakan oleh kebanyakan masyarakat kita. kalau media hanya menjadi bagian provokasi politik dan pemenuhan hasrat politik pihak – pihak tertentu, masihkan media tersebut bisa dipercaya? Saya sendiri mulai meragukan kredibilitas media ketika melakukan provokasi semacam ini.

Tidak bisa kita pungkiri, media sangat berperan dalam menaikkan tensi politik menjelang peristiwa penting seperti Pilkada, bahkan Pilpres. Aksi dan reaksi dan dongkrak popularitas atau penjatuhan popularitas adalah salah satu tujuan dari media yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Tidak bisa kita pungkiri juga, media kadang memiliki agenda politik tertentu. Lihat saja pemberitaan yang keluar dari media tersebut, dan kemana arah agenda politiknya. Dukungan terhadap politisi atau partai politik tertentu sering kali terlihat dengan intensitas berita yang menjatuhkan lawan politiknya.

Kebebasan pers memang sangat dijamin oleh UU No 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Dalam prakteknya, saya sering melihat beberapa media cenderung kebablasan dalam memberitakan tentang peristiwa tertentu. Tapi jangan dilupakan juga kalau media memiliki asas tanggung jawab akan sebuah pemberitaan, apalagi yang menyangkut kepentingan umum, dan masyarakat bisa saja menuntut pers untuk mempertanggung jawabkan pemberitaan tersebut.

Kembali lagi ke berita trotoar Jakarta dan Surabaya, dalam pandangan saya, esensi sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Ahok adalah kalau membandingkan kota sebaiknya yang berimbang, atau apple to apple dalam istilah kerennya. Misal, kalau Surabaya, sebaiknya dibandingkan dengan Jakarta Pusat, karena surabaya adalah ibukota dari Jawa Timur, dan Jakarta Pusat adalah ibukota dari DKI Jakarta. Kita bisa lihat, kalau keduanya dibandingkan, sama – sama bagus pengembangannya, dan trotoar di Jakarta Pusat adalah yang menjadi percontohan untuk trotoar seluruh Jakarta. Kalau kemudian media menggiring perbandingan antara Surabaya dan Jakarta Selatan, ya jelas akan dibantah, karena perbandingannya tidak seimbang.

Sekarang kembali lagi ke perbandingan Tokoh, kalau kemudian Ahok dibandingkan dengan Risma, ya jelas tidak akan seimbang kinerjanya, karena Ahok adalah seorang Gubernur, dan Risma adalah seorang Walikota, jelas sekali, luas cakupan wilayah yang harus dibenahi sangatlah berbeda. Dipandang dari sudut manapun perbandingan ini tidak akan seimbang. Beda hal nya dengan Ahok dibandingkan dengan Aher atau Pak De Karwo, yang sama – sama Gubernur untuk daerah masing – masing. Tentu akan sangat berimbang tentang pembenahan daerah, karena luas cakupan wilayah dan kewenangan yang dimiliki setara. Dari sini kita bisa lihat, dengan kewenangan yang sama, daerah mana yang lebih baik pembenahannya.

Kesimpulan saya begini, media kadang memang menggiring opini kita sebagai masyarakat dan sebagai pembaca, kalaupun kita mau tergiring, kita tentu memiliki alasan tertentu. Sebaiknya sebelum kita semua ikut – ikutan tergiring, kita lihat dulu apa yang dijadikan perbandingan oleh media tersebut. kalau memang berimbang, kita bisa nilai bersama. Kalau tidak berimbang, sebaiknya kita cari perimbangannya. Apapun dan dimanapun, politik hanya masalah kekuasaan, dan tokoh hanyalah masalah popularitas, dan media sebaiknya kembali kepada tujuan awalnya, sebagai pemberi cerah kepada masyarkat, bukan pemuas hasrat politik pihak tertentu.

Ahhh…. nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

one × 3 =