Adhyaksa Dault – Nasionalis Pendukung Khilafah?

769 total, 1 today

Sebelum membahas tentang seorang Adhyaksa Dault, Sebaiknya kita saksikan dulu video berikut: https://youtu.be/6L0DH-_2uEM

Video tersebut adalah wawancara yang dilakukan oleh Muhamad Nazir Al Biruni dari HTI Channel dengan Adhyaksa Dault  Pada Muktamar Khilafah 2013.  Dalam video tersebut, Adhyaksa Dault secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Khilafah. Berikut kutipan transkrip wawancara yang dilakukan.

“Assalamualaikum pak Adhyaksa”
“Waalaikumsalam”
“Gimana kabarnya pak?”
“Alhamdullilah baik”
“Apa yang membuat bapak hadir pada acara hari ini?”
“Hadits, Rasulallah, jelas, membuat saya hadir. *kutipan hadits* itu yang kita tunggu kan. Solusinya nggak bisa, jadi kalau ada orang yang bilang mengatakan bahwa khilafah itu utopis, itu orang gila menurut saya. Karena ini alamatun nubuwah ini, jelas khilafah itu adalah tanda – tanda kenabian rasulullah alaihi wasallam dan insya allah tanpa atau peran kita khilafah pasti berdiri. Cuma bagaimana kita ikut dalam proses itu. Nah caranya bagaimana?, macam – macam, kaya cara saya, cara antum berbeda – beda. Tapi yang jelas niat dalam hati itu, khilafah aala minhaj nubuwwah, khilafah rosyidah itu. Makanya saya hadir disini hari ini. insya allah mudah – mudahan kita masih menyaksikan itu berdirinya khilafah”

Terkait video tersebut, Adhyaksa Dault juga telah menuliskan klarifikasinya, bisa dilihat di halaman ini: https://adhyaksadault.info/2017/04/30/penjelasan-adhyaksa-dault-soal-video-hti.html

Dari isi video tersebut, Adhyaksa Dault mengakui secara terbuka kalau dia mendukung khilafah yang disebut dengan khilafah rosyidah. Sisi inilah yang menarik untuk kita bahas terkait dengan latar belakang keorganisasian dan sepak terjang seorang Adhyaksa Dault dalam dunia politik di Indonesia.

Ada dua hal yang bertolak belakang dalam klaim yang dilontarkan Adhyaksa Dault, pertama adalah klaim pendukung khilafah dan kedua adalah klaim pendukung Pancasila dan NKRI. Dua hal ini sangat – sangat bertolak belakang. Sejarah telah membuktikan, terjadinya DI/TII karena penolakan terhadap Pancasila karena tidak sesuai dengan syariat islam. Ditambah juga dengan klaim Ormas Islam pendukung khilafah seperti HTI dan Ormas Islam lainnya yang menyatakan diri secara terbuka anti demokrasi dan anti Pancasila. Bagaimana mungkin pendukung khilafah bisa mendukung Pancasila, sedangkan syarat utama khilafah adalah penegakan Syariat Islam dan Pancasila tidak sesuai dengan Syariat Islam.

Penegakan khilafah akan menghapuskan Pancasila, inilah yang berbahaya. Apa jadinya Indonesia tanpa Pancasila, saya yakin kita semua sudah bisa memprediksi akan ada perpecahan dimana – mana. Bahkan mungkin Indonesia bisa bubar.

Klaim sebagai pendukung khilafah oleh Adhyaksa Dault adalah sesuatu yang berbahaya mengingat dia adalah Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang dimenangkannya pada pemilihan Ketua Kwartir Nasional Pramuka periode 2013-2018 yang pada tahun yang sama (tahun 2013) video wawancara dimana Adhyaksa Dault menyatakan dukungannya terhadap khilafah di rekam.

Pramuka adalah organisasi yang sangat nasionalis, seperti tertuang dalam dwi satya, yang salah satunya berbunyi “Aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menurut aturan keluarga”. Apa jadinya jika organisasi nasionalis anak muda dipimpin oleh seorang pendukung khilafah.

Adhyaksa Dault pernah mengikuti pengkaderan dari bawah, sejak kuliah mengikuti P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), Tarpadnas (Penataran Kewaspadaan Nasional), Suspadnas (Kursus Kewaspadaan Nasional). Dia juga mengikuti Bela Negara dan sebagai kader Bela Negara, dan banyak lagi, sampai Adhyaksa Dault juga menjadi Ketua Umum KNPI.

Rasanya memang tidak mungkin orang yang telah mengikuti sekian banyak organisasi nasionalis justru mendukung khilafah, tapi faktanya memang secara terbuka Adhyaksa Dault mendukung khilafah melalui pertanyaannya di video dan pada beberapa situs pemberitaan saya menemukan dukungannya terhadap khilafah dengan pernyataan :

“Khilafah pasti ada tanpa atau peran kalian!!! Dan bukan hanya kalian yang mengklaim berjuang untuk tegaknya Khilafah!! Maka biarkan mereka yang berjuang dengan caranya sendiri baik dari dalam sistem atau di luar sistem saling bahu membahu!!!”

Kalimat yang menurut saya sangat lugas menyatakan dukungan terhadap tegaknya khilafah.

Yang menarik untuk kita perhatikan juga adalah karir politik Adhyaksa Dault, namanya mencuat ketika menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dibawah Presiden SBY pada periode 2004-2009 melalui dukungan PKS. Bahkan pada tahun 2009, ketika dia masih menjabat Menpora, dia juga sebagai calon anggota DPR dari PKS yang dipastikan terpilih dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah, tapi dia memilih untuk menuntaskan jabatannya dan mengundurkan diri dari pemilihan.

Karir politik Adhyaksa Dault tidak pernah lepas dari lingkaran PKS,  sementara PKS sendiri mengakui kalau Adhyaksa Dault bukanlah kader, dan tidak masuk dalam struktur inti PKS.

Pada Pilgub Jakarta kemarin, Adhyaksa Dault sempat mencalonkan diri jadi Cagub dari PKS dan PAN, dan sempat mengikuti Konvensi Gubernur Muslim Jakarta yang diselenggarakan oleh Ormas Islam pendukung khilafah, akan tetapi Adhyaksa Dault gagal mencalonkan diri.

Adhyaksa Dault mungkin seorang nasionalis, mungkin juga seorang pendukung khilafah, atau mungkin keduanya, seorang nasionalis yang mendukung khilafah. Tapi kita harus melihat Adhyaksa Dault sebagai seorang politisi, dimana pada umumnya seorang politisi akan berpihak pada kepentingan dan jabatannya. Jarang ada politisi yang mampu bersikap dan bertindak tegas pada kepentingan lain yang mengganggu keutuhan Pancasila dan NKRI. Ketika ada-pun politisi yang demikian, maka akan segera digilas oleh kepentingan akan jabatan.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

5 × 1 =